Kekuatan pena, kata pepatah usang, lebih dasyat di
bandingkan kekuatan satu batalyon tentara. Sama persis juga dengan
perkataan Iman Syafii " Ikatlah ilmu dengan menulis". Kekuatannya
terletak pada sifat yang mampu merajut rekaman peristiwa masa silam
sehingga bisa menjadi ibrah bagi generasi selanjutnya. Dan, pelaku yang
bergerak di dunia ini adalah mereka yang sadar bahwa dengan menulis
corak berpikir dan kecenderungan berpikirnya
setiap masa yang terlewati bisa terdeteksi.
Dengan berjalan di titia filsafat itu aku mendekatimu. Lewat tulisan
tentunya. Aku punya beberapa alasan. Pertama, tulisan lebih berbekas
dan punya kekuatan historis yang bisa dibaca berulang-ulang. Bisa
menjadi cerita yang diwariskan kepada generasi yang berikutnya. Kedua,
menulis maksimal melibatkan spasi perenungan dan pembacaan (teks).
Inilah aku yang bersapa denganmu lewat bahasa pena. Lain tidak.
Lihatlah aku dalam tulisanku. Toh aku pun menilaimu dengan khusyuk dan
mendengarmu lewat bahasa lisanmu. Adi'kan? Dan mungkin pula aku bisa
belajar dari mutentang banyak ha. Demi untuk saling menjadikan.
Saat
membaca tulisan ini. Aku pernah ingat dengan seseorang gadis. Wajahnya
cantik, dengan dagu yang meruncing kebawah. Tanpak terlihat pipi
lesungnya. Seorang gadis yang selalu mengirim surat buatku. Entah apa
yang di tulisnya, tapi aku berpura-pura memahami tulisan itu. Beberapa
kata yang selalu membuatku bingung. Bukan sastra yang dia pakai tapi
kata pengandaian. Dia banyak mengandaikan diriku dengan sesuatu yang
tidak masuk di akal. Kau tahu apa yang pernah dia katakan kepadaku. Aku
seperti seorang lelaki yang tak berdasi, tapi bernilai. Kalau aku
memahami sedikit saja. Maka aku sudah tahu apa maksud dari kata itu.
Namu sayang, aku jelas lebih bodoh dari lelaki yang lainya. Tadak tahu
sama sekali. Bahkan lebih memahami kata sederahana.
Pagi
itu dia mengirim lagi sebuah lembaran kertas yang di titipkan kepada
temanku. Surat pendek dengan nama di atas. Aku ingat tulisan itu.
Hanya
sepenggal tulisan itu yang dapat kuingat. Lalu aku tidak mengerti apa
sebenarnya dari semua tulisan yang di buatnya. Kemudian aku menulis
dengan bahasa sederhana kepadanya.
" Buatmu
wanita yang mengandaikan diriku?. tapi sengaja kubuat tulisan ini agar
aku bisa memahami semua makna kata di dalam beberapa lembaran kertasmu.
Izinkan aku untuk bertanya banyak hal mengenai semuanya. Bukan satu,
mungkin dua atau tiga. Setiap tulisan yang kau kirim selalu menyebut
bulan yang akan terbit di siang hari tanpa bintang. Aku tidak percaya
itu. Apakah itu gerhana bulan?. Terus kau mengatakan bahwa matahari
akan terbit di malam hari. Setahuku itu adalah gerhana matahari. Itu
sudah terjadi beberapa hari yang lalu. Tak sempat kulihat. Hanya
mendengar saja. Aku tidak tahu apa-apa ini surat atau sebuah syair
panjang seperti Khaili Gibran saat dia menulis sebuah cerita mengenai
Laila.
"Barangkali kau akan tertawa dengan
tulisanku. Aku sangat mengerti kenapa kau selalu menuliskan kata seperti
itu agar aku tidak tahu semuanya kan?. Ternyata kau sangat salah. Aku
sudah membuka semua kamus. Menayakan kepada teman-temanku tentang ini.
Jangan marah apa yang sudah kulakukan. Karena surat ini seperti puzzel.
Tapi yang tahu dari semua itu hanyalah kakaku saja. Dia bilang.
"Hmm..hmmm"begitu pajang. Aku akan tunggu surat balasan darimu. Tapi
ingat dengan bahasa lebih mudah kupahami. Dua malam aku tidak tidur
karena menerjemahkan tulisan ini. Tulisanmu seperti tugas kampusku."
Keseokan
hari, Aku menyuruh teman dekatku mengirim surat balasan kepadanya.
Semoga saja dia bisa membalas surat dengan apa yang kuingankan.
" Tolong kau berikan kepada Salsabila."kataku memberikanya.
" Apa ini?"
"Berikan
saja.". Aku langsung beranjak masuk kedalam kamar kembali. Melakukan
aktivitas seperti biasanya. Membaca beberapa buku yang sudah dua hari
ditinggalkan. Komputerku menyala. Sudah berkirsaran 3 jam. Jendela itu
terbuka lebar. Sebelum mata ini berkedip-kedip, dan mulut terbuka
lebar. Di luar sana ada beberapa anak kecil yang sedang bermain.
Berteriak memanggiku bermain..
Kemudian aku beranjak
keluar. Tidak terlalu lama di luar. Aku kembali masuk kedalam kamar.
Mengulingkan badan dengan cepat. Jelas mata ini terasa sangat kantuk.
Besok hari dia akan tertawa. Dia akan mengirm surat kembali. Aku akan
berpikir sebelum tidur. Bagaiman nanti tulisan itu?. Apa dia berpikir
bahwa ternyata ada lelaki yang sangat bodoh di dunia ini. Lalu dia
mengatakan bahwa Monyet itu tidak pernah berkata, tetapi melakukan apa
yang di suruh?. Ah.
Pintu rumahku di ketuk oleh seorang
wanita. Aku yang berada di kamar mandi segera menyelesaikan aktivitas.
Cepat-cepat keluar membuka pintu sambil mengenakan kain handuk yang
dililitkan pada pinggang mengencank.
" Ini surat darinya" Nisa memberikanya kepadaku.
" Aku balik dulu"
" Dia tidak mengatakan sesuatu kepadamu?"
" Tidak.. Dia hanya menitipkan surat kepadaku. Setelah itu dia pergi dengan mobilnya"
" Terima kasih atas bantuanya"ucapan terima kasih sebelum aku masuk kedalam rumah.
Aku
membuka surat dengan pingiran di berikan sebuah gambar wanita yan
sedang termenung melihat hujan di jendela. Di dalam kamar barulah
kubukan isi surat itu.Ternyata dugaanku benar. Surat itu mulai lagi di
tulis dengan tulisan yang sama lagi. Dahi mulai mengkerut tebal. Sungguh
wanita ini berencana membunuhku beberapa hari ini. Apakah dia tidak
membaca tulisanku itu. Padahal aku menulis dengan huruf besar di bawah
sekali. "AKU TIDAK SUKA DENGAN SASTRA ATAU PENGADAIN". Ini benar-benar
wanita aneh. Aku hanya membaca di atasnya saja. Tidak melanjutkan lagi.
Apa lagi dia menulis seperti artikel yang begitu panjang. Kemudian
wanita itu memasukkan beberapa para ahli. Di tambah sepenggal ayat
al'quran.

Posting Komentar