Headlines News :
Home » » (Cerpen) Surat Sastra

(Cerpen) Surat Sastra

Written By Munawir Borut on Kamis, 17 Mei 2012 | 07.41


 " Untuk bulan yang akan terbit di siang hari, dan matahari akan terbit di malam hari. Seperti biasanya, aku menulis ini pada sebuah tinta yang tak berisi. Namun terlihat pada setengah beberapa derajat. Namu terlalu sulit untuk dituliskan. Tapi saat ku bayangkan pada sebuah air, maka beberapa huruf itu timbul dengan sendirinya. Sungguh itu terjadi dengan cepat. Lalu aku mengambil pada air itu. Kuletakan di atas kertas. Dan ternyata hanya noda hitam. Sengaja ingin kukirim tulisan dengan air yang bertuliskan namu agar kau tahu semuanya." 

Kekuatan pena, kata pepatah usang, lebih dasyat di bandingkan kekuatan satu batalyon tentara. Sama persis juga dengan perkataan Iman Syafii " Ikatlah ilmu dengan menulis". Kekuatannya terletak pada sifat yang mampu merajut rekaman peristiwa masa silam sehingga bisa menjadi ibrah bagi generasi selanjutnya. Dan, pelaku yang bergerak di dunia ini adalah mereka yang sadar bahwa dengan menulis corak berpikir dan kecenderungan berpikirnya

setiap masa yang terlewati bisa terdeteksi. 
 
Dengan berjalan di titia filsafat itu aku mendekatimu. Lewat tulisan tentunya. Aku punya beberapa alasan. Pertama, tulisan lebih berbekas dan punya kekuatan historis yang bisa dibaca berulang-ulang. Bisa menjadi cerita yang diwariskan  kepada generasi yang berikutnya. Kedua, menulis maksimal melibatkan spasi perenungan dan pembacaan (teks). Inilah aku yang bersapa denganmu lewat bahasa pena. Lain tidak. Lihatlah aku dalam tulisanku. Toh aku pun menilaimu dengan khusyuk dan mendengarmu lewat bahasa lisanmu. Adi'kan? Dan mungkin pula aku bisa belajar dari mutentang banyak ha. Demi untuk saling menjadikan.

 Saat membaca tulisan ini. Aku pernah ingat dengan seseorang gadis. Wajahnya cantik, dengan dagu yang meruncing kebawah. Tanpak terlihat pipi lesungnya. Seorang gadis yang selalu mengirim surat buatku. Entah apa yang di tulisnya, tapi aku berpura-pura memahami tulisan itu. Beberapa kata yang selalu membuatku bingung. Bukan sastra yang dia pakai tapi kata pengandaian. Dia banyak mengandaikan diriku dengan sesuatu yang tidak masuk di akal. Kau tahu apa yang pernah dia katakan kepadaku. Aku seperti seorang lelaki yang tak berdasi, tapi bernilai. Kalau aku memahami sedikit saja. Maka aku sudah tahu apa maksud dari kata itu. Namu sayang, aku jelas lebih bodoh dari lelaki yang lainya. Tadak tahu sama sekali. Bahkan lebih memahami kata sederahana.

Pagi itu dia mengirim lagi sebuah lembaran kertas yang di titipkan kepada temanku. Surat pendek dengan nama di atas. Aku ingat tulisan itu. 
  
 Hanya sepenggal tulisan itu yang dapat kuingat. Lalu aku tidak mengerti apa sebenarnya dari semua tulisan yang di buatnya. Kemudian   aku menulis dengan bahasa sederhana kepadanya.
 
" Buatmu wanita yang mengandaikan diriku?. tapi sengaja kubuat tulisan ini agar aku bisa memahami semua makna kata di dalam beberapa lembaran kertasmu. Izinkan aku untuk bertanya banyak hal mengenai semuanya. Bukan satu, mungkin dua atau tiga. Setiap tulisan yang kau kirim selalu menyebut bulan yang akan terbit di siang hari tanpa bintang. Aku tidak percaya itu. Apakah itu gerhana bulan?. Terus kau mengatakan  bahwa matahari akan terbit di malam hari. Setahuku itu adalah gerhana matahari. Itu sudah terjadi beberapa hari yang lalu. Tak sempat kulihat. Hanya mendengar saja. Aku tidak tahu apa-apa ini surat atau sebuah syair panjang seperti Khaili Gibran saat dia menulis sebuah cerita mengenai Laila. 

"Barangkali kau akan tertawa dengan tulisanku. Aku sangat mengerti kenapa kau selalu menuliskan kata seperti itu agar aku tidak tahu semuanya kan?. Ternyata kau sangat salah. Aku sudah membuka semua kamus. Menayakan kepada teman-temanku tentang ini. Jangan marah apa yang sudah kulakukan. Karena surat ini seperti puzzel.  Tapi yang tahu dari semua itu hanyalah kakaku saja. Dia bilang. "Hmm..hmmm"begitu pajang.  Aku akan tunggu surat balasan darimu. Tapi ingat dengan bahasa lebih mudah kupahami. Dua malam aku tidak tidur karena menerjemahkan tulisan ini. Tulisanmu seperti tugas kampusku."

Keseokan hari, Aku menyuruh teman dekatku mengirim surat balasan kepadanya. Semoga saja dia bisa membalas surat dengan apa yang kuingankan.  
 " Tolong kau berikan kepada Salsabila."kataku memberikanya.
 " Apa ini?"
 "Berikan saja.". Aku langsung beranjak masuk kedalam kamar kembali. Melakukan aktivitas seperti biasanya. Membaca beberapa buku yang sudah dua hari ditinggalkan. Komputerku menyala. Sudah berkirsaran 3 jam. Jendela itu terbuka lebar.  Sebelum mata ini berkedip-kedip, dan mulut terbuka lebar. Di luar sana ada beberapa anak kecil yang sedang bermain. Berteriak memanggiku bermain..

Kemudian aku beranjak keluar. Tidak terlalu lama di luar. Aku kembali masuk kedalam kamar. Mengulingkan badan dengan cepat. Jelas mata ini terasa sangat kantuk. Besok hari dia akan tertawa. Dia akan mengirm surat kembali. Aku akan berpikir sebelum tidur. Bagaiman nanti tulisan itu?. Apa dia berpikir bahwa ternyata ada lelaki yang sangat bodoh di dunia ini. Lalu dia mengatakan bahwa Monyet itu tidak pernah berkata, tetapi melakukan apa yang di suruh?. Ah.

Pintu rumahku di ketuk oleh seorang wanita. Aku yang berada di kamar mandi segera menyelesaikan aktivitas. Cepat-cepat keluar  membuka pintu sambil mengenakan kain handuk yang dililitkan pada pinggang mengencank.
 " Ini surat darinya" Nisa memberikanya kepadaku.
 " Aku balik dulu"
 " Dia tidak mengatakan sesuatu kepadamu?"
 " Tidak.. Dia hanya menitipkan surat kepadaku. Setelah itu dia pergi dengan mobilnya"
 " Terima kasih atas bantuanya"ucapan terima kasih sebelum aku masuk kedalam rumah.

 Aku membuka surat dengan pingiran di berikan sebuah gambar wanita yan sedang termenung melihat hujan di jendela. Di dalam kamar barulah kubukan isi surat itu.Ternyata dugaanku benar. Surat itu mulai lagi di tulis dengan tulisan yang sama lagi. Dahi mulai mengkerut tebal. Sungguh wanita ini berencana membunuhku beberapa hari ini. Apakah dia tidak membaca tulisanku itu. Padahal aku menulis dengan huruf  besar di bawah sekali. "AKU TIDAK SUKA DENGAN SASTRA ATAU PENGADAIN". Ini benar-benar wanita aneh. Aku hanya membaca di atasnya saja. Tidak melanjutkan lagi. Apa lagi dia menulis seperti artikel yang begitu panjang. Kemudian wanita itu memasukkan beberapa para ahli. Di tambah sepenggal ayat al'quran.


Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Sang Hafidz Dari Timur - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger