TENGAH HARI INI, kota Ambon mulai seakan membara. Matahari berpijar dari tengah peta langit. Hembusan angin disertai debu yang bergulung-gulung menambah panas udara dari detik ke detik. Karena dibulan puasa, maka Ummi tidak ada toleren kepada kami berdua. Padahal bulan puasa adalah bulan yang penuh rahmat dan barokah. Tapi kata Ummi kalau Rahmat Allah adalah memperbanyak Ibadah kepada-Nya. Apa saja yang harus dilakukan sehingga kedekatan kita kepada Allah semakin dekat. Bulan puasa satu tahun sekali. Kematian tidak semua orang tahu, karena Allah yang menciptakan.
Bukannya kami senang ketika datangnya bulan puasa. Tapi dibulan puasa pertama ini, kami berdua sudah dibuat jadwal oleh Ummi. Apa saja yang akan dilakukan selama 30 hari. Pertama, Ummi sudah menuliskan kalau hafalan tidak ada. Wajah kami Nampak gembira mendengar ucapan Ummi. Sebulan kami merasakan kalau tidak ada hafalan lebih mengasyikan ketimbang bergadang terus-menerus. Mengingat hafalan yang semakin hari lebih sulit. Aku sudah yakin dari pertama bahwa Ummi sudah membaik sifatnya. semua jadwal bermain diperbanyak, terkecuali hari pertama nanti.
Namun sayang, tiba-tiba saja disore hari Ummi sudah menempelkan aturan baru selama menjelang bulan puasa. Menghatamkan al’quran 6 kali untukku dan Zha’ir hanya 3 kali selama bulan puasa.
“ Bulan puasa harus diisi dengan membaca al’quran, diperbanyak dengan ibadah dan berzikir, sayang”kata Ummi dengan intonasi pelan sambil membujuk aku agar bisa melakukanya.
“Tapi kan terlalu banyak Ummi. Ngga bisa dikurangi khatamnya. Terus bermainya kami gimana?” keluhku.
Ummi masih tetap mengeleng kepala.
“ Ibadah tidak boleh ditawar-tawar. Ingat puasa hanya sekali datangnya. Sesungguhnya orang yang sangat beruntung adalah orang-orang yang menyibukkan diri mereka dengan beribada kepada Allah selama sebulan penuh. Kok kamu tidak mau berlomba untuk mendapatkan karunia Allah”kata Ummi menasehatiku.
“ Betul kak, kata Ustad kalau 1 huruf pahalanya 10 untuk setiap bacaan al’quran. Coba saja kalau kakak baca alif, lam, mim. Tuh dapatnya 30. Kalau habisin 6 kali ngga bisa dihitung makai kakulator kan” Zhair ikut menambahkan kata-katanya.
Aku yang menendengar ucapan Zha’ir sedikit jengkel. Karena beban berat padaku. Zha’ir hanya 3 kali menghatamkan selama sebulan. Berarti selama sebulan itu juga dia lebih banyak bermain bola dengan teman-temanya.
“Kalau gitu hafal saja buat aku. Ntar Zha’ir yang menghatamkan al’quran, gimana Ummi”
“ Tidak bisa, sayang. Masa sih kamu kalah sama adikmu sendiri. Seharusnya kamu lebih banyak menghatamkan al’quran 7 atau 8 kali. Ummi sudah perkirakan kalau nanti kalian membaca setiap habis solat. Duhur 1 Juz, Asar 1 juz, Magrib 1 juz, Isya 1 Juz, Subuh juga begitu. Itu lebih mudah kan ”
“Yeah, di kurangi empat kali khatam gimana Umi?” aku masih berusaha membujuknya. Namun sia-sia. Apa yang sudah dibuat olehnya tidak bisa lagi diganggu. Selama bulan puasa itu juga Ummi selalu bersama kami.
Aku hanya bisa tersenyum kecewa dengan aturan baru selama bulan puasa. Ditambah lagi 10 malam terakhir aku harus I’tiqoh bersama Abi di mesjid. Dan itu sudah diberitahukan oleh Abi sebelum Ummi memberitahukanku. Zha’ir tidak diajak.
Setiap aturan baru. Stretegiku juga harus baru. Ini beresiko besar. Ancaman Ummi simple kalau tidak diikuti. Tidak ada baju lebaran bagiku atau Zha’ir. Itu sudah dilakukan saat aku kelas 3 SD. Saat itu aku disuruh untuk berpuasa selama sebulan penuh. Puasa itu kulakukan dengan baik. Ummi langsung memberikanku baju dan sepatu baru untuk lebaran.
Kali ini Ummi terus mengontrol kami berdua. Bacaan al’quran harus dirumah. Selesai solat harus kembali. Hari pertama sampai kelima semua berjalan lancar. Zha’ir lebih awal istirahat. Kalau Duhur dia tidak membaca al’quran. Dia sudah ditempat tidur. Dan aku sendiri bersama Ummi diruang tengah. Ummi terus mengawasiku. Bacaanku harus diperbesar.
5 hari aku sudah khatam pertama kalinya. Mulai lagi kembali dengan bacaan al’quran. Terasa disiksa selama bulan puasa. Untung Abi selalu mengatakan kepadaku kalau melakukan sesuatu harus penuh keikhlasan. Jangan membuat sesuatu karena keterpaksaan. Hari pertama aku melakukanya dengan terpaksa. Dan setelahnya lagi. Aku sudah bertekat bahwa aku harus melakukannya karena Allah bukan karena perintah Ummi. Aku tidak mau bacaan al’quranku tidak diterima. Percuma juga kalau 6 kali khatam tanpa mendapatkan apa-apa di Akhirat nanti.
5 hari berikutnya selesai. Ummi yang menjadi pengawas sudah tidak tanpak dihari berikutnya lagi. Dia sudah percaya kalau aku tidak akan melanggar. Akhirnya selama itu juga aku sudah merasakan bahwa apa yang dibuat oleh Ummi menjadi sebuah kebiasaan. Sama dengan menghafal al’quran.
****
10 hari terakhir. Aku akan bersiap-siap. Dan Ummi sudah berjanji kalau aku melakukan I’tiqoh dimesjid Jabal Tsur dengan baik. Maka ada hadia special yang akan diberikan. Tugas selanjutnya diberikan oleh Abi. Untuk berurusan dengan Abi lebih mengasyikkan. Abi lebih memahi diriku.
“ Tolong diperhatikan bacaan al’qurannya, Abi. Jangan sampai dia tidak mengikuti aturan yang sudah dibuat”kataUmmi mengingatkan kepada Abi.
“ Serahkan semua buat Abi. Nanti Abi akan perhatikan bacaanya. Janganlah kau takut, sayang”kata Abi didepan Ummi dengan candanya yang begitu romantis. Aku terkejut mendengar kata “ SAYANG”. Bagaimana bisa Abi mengucapkan kata itu dengan santai. Padahal Selama ini aku tidak pernah mendengar ucapan sayang dari Abi. Aku hanya bisa sering melihat Abi mencium kening Ummi setiap selesai subuh. Itu dilakukan bukan hanya kepada Ummi, aku dan Zha’ir. Yang kami tahu kalau sebernarnya Abi orangnya kaku untuk mengucapkan kata sayang, cinta atau apalah. Dan wajah Ummi memerah.
“ Zha’ir ngga bisa ikut ya Ummi?”pinta
“ Hei. Ini bukan picnic kawan. Ini I’tiqof. Nanti saja kau ikut tahun depan.”kataku sedikit membentak dengan suara yang keras. Abi hanya tertawa. Begitu juga Ummi.
“ Idih kakak kejam sekali”
“Kamu dirumah saja dengan Ummi. Ntar kalau menjelang buka atau sahur kamu bisa datang bersama Ummi. Ummi juga akan melaksanakan solat malam dimesjid”kata Abi menjelaskan.
“ Kamu dirumah saja, sayang. Kalau kamu pergi ikut bersama Abi dan kakakmu. Siapa yang akan menemani Ummi nanti”ummi ikut menambahkan.
“Oh, Iya, betul.”
Wajahku terlihat gembira karena tidak ada lagi yang mengawasi bacaan al’quran. Akhirnya, aku bersama Abi langsung menuju mesjid Jabal Tsur yang tidak terlalu jauh dari rumah. Selama didalam mesjid kerjaanku adalah membaca al’quran. Setelah itu tidur diatas permadani mesjid. Di pagi hari membersihkan mesjid supaya menghilangkan rasa ngantuk. Kemudian mandi tepat pada jam 7.30. Kemudian dilanjutkan dengan solat Duha setelah membaca al’quran. Disela-sela istirahat. Abi mulai bercerita ketika dia masih kecil dipondok pesantren.
“ Kalau sudah 10 terakhir dibulan puasa. Biasanya Abi dan teman-teman melakukan I’tiqof bersama-sama didalam mesjid. Beberapa teman tidak mampu melakukannya. Waktu itu Ummur Abi masih 13 tahun. Seusia kamu. Jadi kalau kamu melakukannya. Abi mulai bernostalgia kembali. Ingatannya masih ada.”
Aku yang sedikit mengantuk berusaha mendengar ceritanya.
“ Dan kesibukannya juga sama seperti kamu. Membaca al’quran, dan berzikir. Mereka juga melakukan ibadah-ibadah sunnah. Tidak ada yang melewatkannya. Mereka melakukannya dengan sabar dan ikhlas.”
“ Sama seperti para sahabat dulu. Mereka begitu gembira ketika bulan puasa akan datang. Mereka lebih giat beribadah. Orang yang berpuasa dengan sungguh-sungguh maka dosa-dosanya akan dihapuskan. Dan saat puasa akan berakhir. Para sahabat-pun bersedih. Karena satu dan lain hal yang membuat mereka sedih. Kematian ditangan Allah. Kalau mereka diberikan umur panjang untuk bertemu kembali dengan bulan puasa. Maka mereka akan bersyukur. Namun kalau Allah sudah memanggil mereka. Maka ini bagaikan puasa terakhir buat mereka.”Abi sedikit mengeluarkan air mata. Aku yang sedikit mengantuk melihat kedua matanya yang mulai basah. Selama ini aku tidak pernah melihat Abi menangis dihadapan kami.
“ Saat Abi kecil dulu. Nenekmu selalu bilang kalau gunakan puasa ini sebaik-baik mungkin. Suatu saat kalian tidak akan bisa berpuasa dengan orang yang kalian sayangi. Pandangi mereka selamat-lamatnya. Jangan sampai dibulan puasa kedepan. Orang yang kalian sayangi tidak bisa kalian pandangi. Hanya sebuah Foto yang tak bergerak yang menjadi hiasan dinding. Karena Allah sudah memanggil mereka.” Kata Abi sambil mengingat-ingat dirinya diwaktu kecil bersama orang yang dicintai.
“ Di awal desember nenekmu meninggal. Dan Abi mendapatkan berita saat berada dipondok pesantren terkejut. Saat kembali kekampung. Abi hanya bisa datang dimakam nenek dengan penuh bersalah”. Dan Abi membuka dompet yang berisikan foto nenekku dan kakekku. Selama ini aku tidak mengenal siapa kakek dan nenek. Wajah kakek sama persis denganku. Hidungnya yang mancung. Dan kedua pipinya lesung. Wajah nenek sama persis dengan Zha’ir. Apa lagi difoto Abi. Nenek sedang tersenyum.
Aku yang mendengar ikut menangis. Iya, perkataan Abi betul. Aku teringgat dengan temanku Radit. Dia teman sekelas yang mempunyai kisah sama seperti Abi. Umminya meninggal beberapa hari sebelum bulan puasa. Dan saat aku bertemu dengannya. Dia tanpak sedih. Dan dia bercerita kalau tentang buka puasa dan sahur tanpa ada orang yang dicintai (Umminya). Wajahnya berseri-seri ingin menangis.
“ Saat kami berbuka, Adib. Yang kami lihat adalah piring Ummiku yang diletakkan berdekatan denganku. Dan saat aku menyentuh pirinya. Aku seolah merasakan kalau saja Ummiku masih hidup. Namun yang kulihat saat itu kosong. Piring dan sendoknya tidak bergerak. Piring dan sendok menjadi hiasan. Dan diantara kami semua menangis saat berbuka” kata Radit menangis.
Aku hanya membayangkan suatu saat nanti. Abi dan orang yang dekat denganku akan kembali disisi Allah. Abi menyekat air matanya. Aku hanya menyentuh fotoh nenek dan kakek. Kalau saja Zha’ir tahu Abi menyimpan foto kakek dan Nenek. Dia begitu gembira. Aku tidak pernah percaya kalau Abi masih menyimpan foto kakek dan Nenek.
“Mereka semua adalah orang yang paling Abi cintai setelah Allah dan Rasull. Begitu juga para Sahabat-sahabat nabi”.
Tepat pukul 3.00 bunyi pintu mesjid terbuka. Ummi mulai masuk bersama Zha’ir mengatarkan makanan sahur buat Aku dan Abi. Zha’ir dengan wajah mengantuk menabrak tiang penyangga mesjid. Langsung terkejut.
Abi memberikan isyarat agar aku tidak boleh bercerita kepada Zha’ir. Walau 10 hari terakhir dimesjid. Abi belum bercerita tentang malam 1000 bulan ( malam lailatul Qodar).
Abi memberikan isyarat agar aku tidak boleh bercerita kepada Zha’ir. Walau 10 hari terakhir dimesjid. Abi belum bercerita tentang malam 1000 bulan ( malam lailatul Qodar).
“ Nanti Abi cerita tentang tanda-tanda malam lailatul qodar buat kalian berdua” kata Abi sambil memasukkan makanan didalam mulutnya. Kami berdua menganggukkan kepala. Saat itu aku memandang Ummi dan Zha’ir tidak berhenti.
“Jangan kamu memandang Ummi seperti itu sayang.”
***
"Catatan Zha'ir disepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dalam Novel kedua "Sang Hafidz dari Timur

Posting Komentar