Headlines News :
Home » » Mengejar Mimpi

Mengejar Mimpi

Written By Munawir Borut on Minggu, 18 September 2011 | 14.47

 
Berderai air mataku,  seperti banjir di Jakarta. Bukan karena keusilan teman ngajiku, bukan karena takut dimarahi ustadz Sugito karena tajwid dan makhrojku mulai banyak yang salah lagi, melainkan marah melihat adikku yang hampir jatuh dari tingkat 2, karena ulah Putra, Raihan & Dian. Aku tak bisa membayangkan jika Daeng adik keduaku itu pergi menyusul kakek & Mustakim, Daeng adalah pengganti malaikat kecilku yang tak sempat aku memeluk erat tubuh mungilnya. Mustakim, aku sayang Daeng, aku tak ingin kehilangan dia, aku memeluk adikku dengan erat masih terlihat jelas kecemasan adikku itu, semakin kesal hatiku dengan panti ini, Putra & teman-temannya hanya pendatang nakal! Ingin aku tendang mereka. Tapi, aku tak ingin umi & Abi kecewa karena ulahku, cepat aku kembali ke asrama panti, ingin sekali aku pulang ke rumah, dan waktu yang kutunggu akhirnya tiba, aku menelfon Abi untuk menjemputku di Panti ini. setelah sampai di rumah, aku bercerita tentang kenakalan Putra, Abi tak terlalu menanggapi, karena kemarin aku sudah mengadukan Hamzah, seorang anak Panti yang cukup nakal, dia selalu menggangguku. Dan Abi sudah menegurnya, keesokan harinya aku merasa enggan untuk mengaji, ditambah lagi ustadz pergi ke Padang dan teman-teman sekolah, kakak kelas, serta teman bermainku juga sudah tidak mengaji lagi disana.
Saat itu aku pergi bersama saudara sepupuku. Kebetulan hujan Abi dan abang menunggu di asrama panti yang sudah 3 tahun berdiri disana. Ketika sampai, terdengar Adzan Ashar. Aku dan sepupuku Rani, pergi Sholat di asrama putri panti, hatiku gelisah, ada apa? Sholatku tak khusyuk, beberapa kali aku berta’awuz diiringi suara batuk, setelah sholat aku keluar menemui Abi dan abang, lalu berkata
“Bi, kelihatannya di sini terlalu dingin, kita pulang saja, Icha tidak tahan……” itu sudah cukup alasan untukku karena aku alergi dingin, debu dan asap, bisa saja itu itu asap rokok, asap motor atau mobil, dan asap bakaran sampah.
“Nggak ngaji?” Tanya Abi
“Mungkin minggu depan, dingin sekali disini, ayuk juga batuk pilek….” Aku menjelaskan seadanya sambil menutup mulutku.
“Ya sudah. Kita balik kerumah saja”.
Akhirnya aku pulang ke rumah, barulah hatiku tenang. Tapi, janjiku minggu depan akan mengaji tak pernah terwujud karena sudah terlalu bosan dengan panti itu.
 Sudah lebih sebulan, SMPIT Rabbi Radhiyya yang kembali dibina PZB (Pondok Zakat Barokah) akhirnya selesai dibangun, saat itu SMPIT  membutuhkan bantuan guru. Abi menelfon ustadz Sugito, guru ngajiku di panti, tapi tidak bisa. Akhirnya kepala sekolah SMPIT, yang juga guru STAIN Curup dan ketua PZB  mengambil tindakan. Om Kurniawan mengambil beberapa orang dari murid STAIN untuk dijadikan guru sementara disana, dan Alhamdulillah bisa.
  Petang itu Abi pergi ke Kopsyah Barokah memusyawarahkan biaya Kopsyah Barokah yang semakin menipis, karena banyak anggota yang macet membayarkan pinjamannya. Esok hari disaat aku hendak pergi bermain, datanglah om Kurniawan, om Eno, dan om Akhirman. Aku harus membuatkan minum mereka dulu barulah bermain, tapi tidak! Mereka datang untuk menjemputku dan adikku untuk mengaji di dwi tunggal bersama ustadz Sugito lagi. Malam itu aku dan teman-teman tidur disana, banyak pengalaman yang bisa selalu dikenang, tapi, aku juga sudah merasa sedikit bosan. Temanku juga sudah banyak yang tidak lagi mengaji, saat itu aku sedang duduk sendiri di depan rumah ustadz. Dan kudengar ada seseorang yang memanggil-manggil namaku, tapi siapa? Aku tak menghiraukannya tiba-tiba dari belakangku……
“Door…..” Zahran memgang pundakku, aku sedikit terkejut lalu berlari mengejar Zahran, tapi Fahri, Ausa, dan Arif datang. Menghalangiku untuk mengejar Zahran, mereka selalu kompak.untunglah adik Fahri yaitu Farhan, mau membantuku dia menahan tangan Zahran sehingga tidak bisa berlari, juga karena tertawa saat aku mengejarnya, aku setangah berlari menuju Farhan dan Zahran.
“Stoooop…!!” seru Zahran
“Main perang-perangan yuuk!!” kami semua langsung berlari mengambil posisi, aku, Zahran, Farhan dan Arif, bersembunyi terlebih dahulu di balik pohon. Fahri dan Ausa biarlah mereka berdua saja, mereka juga lebih tua dari kami berempat. Arif memungut buah-buah kecil yang jatuh, Farhan mengumpulkan kerikil-kerikil, Zahran dan aku naik ke atas pohon rimbang di depan rumah ustadz.
Setelah semua alat yang diperlukan terkumpul, Farhan menyusul aku dan Zahran memanjat pohon tadi dan langsung memberikan buah dan kerikil. Saat aku kembali memanjat sebuah kerikil mengenai kakiku, perang-perangan mulai seru! Kami sealing melempar, tapi sekuat apapun kami melempar tetap saja yang menang pasti Fahri dan Ausa. Esok harinya aku merasa malas ke rumah ustadz, sepulang sekolah langsung saja aku pergi bermain ke rumah Velia, ternyata adikku juga sudah tak ingin lagi mengaji, jadi aku tak perlu repot untuk ngungsi ke rumah temanku melarikan diri dari mengaji.    
                                                               ******
Pagi ini, aku diantar Abi ke sekolah, setelah sampai di sekolah, aku menyalami tangan Abi dan mengucap salam padanya. Aku memasuki gerbang sekolah bercat hiaju yang sudah kusam itu, kulihat ada beberapa ustadzah yang berbaris memanjang di depan taman persegi panjang itu, hanya empat orang yang berbaris disana. Kulihat Dioz yang sampai bersamaku menyalami ustadzah-ustadzah yang berbaris. Aku tak menghiraukan mereka, setengah berlari menuju lokalku, 5A sejak kelas 3 aku selalu mendapat lokal A, hanya saja di kelas 2 aku mendapat bagian lokal B. Aku melangkahkan kakiku ke dalam lokal yang jarang dibersihkan, piket terkadang tidak berjalan, lantai sudah berdebu. Aku terkadang ingin mengeluh melihat temanku yang serba jorok dengan apa saja yang sudah dianggap sampah seolah-olah mereka yang paling bersih di dunia ini, tak ada yang tidak bisa jadi bahan pembicaraan mereka. Dan bahkan, ustadz ustadzah pun, bila mereka menganggap itu jorok, sudah menjadi berita hangat bagi mereka, pantas saja ustadz-ustadzah selalu memberikan hukuman memungut sampah di selokan.
“Assalamu’alaikum…..” ujarku sambil memasuki lokal itu, tak ada yang menjawab, lokal itu hening. Kesal di hatiku! Ingin kutendang meja itu! Mereka semua sibuk dengn PR yang terlupakan. Bel berbunyi, aku segera meletakkan tasku di bangku yang penuh debu itu.
“huft! Susah dengan kelas ini….” gumamku, aku berjalan ke arah meja guru lalu mengambil kemoceng bulu ayam dan kembali ke tempat dudukku membersihkannya dari debu. Entah apa yang akan terjadi? Kenapa hatiku begitu kesal dengan lokal ini?
Setelah iftitah, semua murid memasuki lokal, muraja’ah sebentar dan melanjutkan ke pelajaran pertama, hatiku gelisah! Fikiranku melayang entah kemana, tiba-tiba…..
“Kerjakan halaman 21 bagian A,B,C dan D…..” perintah Ustadzah, aku tersentak, lalu segera membuka buku Fiqih halaman 21, tentang Qurban! Aku membuka buku tulisku itu dan mulai menulis satu per-satu soal yang ada, aku mulai bosan dengan semua ini, tangan jahilku mulai beraksi! Aku mencubit temanku.
“Hey…” ujarnya
“Apa?” tanyaku pura-pura tidak mengetahui apa yang terjadi
“Sudahlah tidak perlu menggangguku…..” nada bicaranya meninggi, dia mulai marah
“Maaf….” Ucapku singkat, lalu melanjutkan latihan yang diberikan ustadzah tadi. Benar-benar bosan, tidak ada yang mengasyikkan disini.  Setelah lama kutunggu bel istirahat, akhirnya terdengar juga, aku mengambil sandal bertuliskan REAL MADRID berwarna coklat yang kubeli bersama Abi kemarin. Aku keluar dari lokal itu, hatiku masih menyimpan kekesalan yang entah dari mana datangnya. Aku berjalan ke arah  gudang belakang, gudang itu menyimpan banyak kenangan aku dan sahabatku, setiap tahun sahabatku berganti entah mengapa. Tahun ini giliran Azzam dan Intan yang menjadi sahabatku, cukup nyaman dengan mereka. Aku berjalan ke arah gudang, tanganku masuk ke kantong celanaku, mataku menunduk ke bawah seperti biasa, tiba-tiba……..
“Icha, anak cowok ngajakin duel….” Rizka menyampaikan padaku apa yang akan dilakukan santri laki-laki
“Hah? Duet? Ya udah ikutin aja, kan kamu yang paling pandai bernyanyi……” jawabku santai sambil terus berjalan
“Astaga! Bukan duet Ichaa…… Duel, De U Du El el, DUEL….” Teriak Rizka
“Ya Allah!” balasku dengan nada yang agak tinggi, padahal aku tak mengerti apa itu duel
“Duel apaan?” tanyaku dengan tertawa
“Astaga Icha!! Berkelahi…….” Balas Rizka dengan memegang kepalanya
“Owh, ayo…..” aku lalu berbalik menuju lokal, kulihat mereka sudah perang mulut, sebentar lagi akan  ada perkelahian. Tapi, tak mungkin, cewek cowok sama lembeknya. Aku berjalan memasuki lokal yang sudah sangat bising itu.
 Ketika aku memasuki lokal itu, mereka saling menyerang, tapi pukulan yang sangat pelan. Aku duduk di bangkuku, tak lama datanglah Hafidz berkata padaku
“Icha, kok diem aja sendirian disini?” tanyanya, tiba-tiba datang Rizka mendorongku ke arah Gifar, lalu berteriak.
“Jangan hanya diam!! Lawan dia……” Rizka menunjuk Gifar, aku tak ingin temanku itu kecewa, aku hanya menurut, tapi, apakah aku mampu melawan Gifar yang sejak TK bersamaku dan kami berteman baik, Ah! Sudahlah, kudekati Gifar dan…..
“Hey, ayo berkelahi…..” ujarku tenang
“Sudahlah, tak usah…” balasnya, tiba-tiba Fadli mendorongku dari belakang tanganku memegang Gifar dan dia marah langsung menyerangku, menendang kakiku, aku terkejut, begitupula temanku yang sedang berkelahi, kudengar ada yang berkata
“Mereka benar-benar berkelahi!” ingin ku pukul mereka yang sudah membohongiku tapi, ya sudahlah, tak perlu dihiraukan. Aku membalas memukulnya perkelahian tak terelakkan Gifar memakai jurus silatnya sedang aku karate, karena ilmu karateku masih terlalu cetek, jadi aku gunakan metode berkelahi seperti biasa.
Gifar menendang kakiku berkali-kali, aku selalu membalasnya dengan memukul perutnya, sesekali aku memegangi kakiku yang sakit. Tiba-tiba datanglah sahabat Gifar, Dilla, melihat aku dan Gifar berkelahi Dilla lalu berteriak
“Sudahlah Gif, wanita jangan kau lawan.!!” Teriaknya
“Panggil abangmu, aku tak takut!” ancamnya padaku
“Panggil ayahmu, sebesar apapun kekuatannya, mau dia tebas leherku aku tak takut!” balasku dengan nada yang lebih tinggi, wajahnya memerah mendengar perkataanku.
“Tidak perlu kau bawa orang tua, dasar anak manja!” ujarnya
“Ternyata kelemahanmu ada pada bapakmu, preman pasar!” balasku lagi
“Aku tendang tahu rasa kamu!”
“Memangnya selama ini aku tak bisa merasakan! Kamu pikir aku tak punya perasaan?!”
“Sudahlah, pergilah kau Gifar….” Dilla meleraikan kami berdua, dia membawa Gifar keluar, dengan perasaan sedih. Aku duduk di bangkuku, aku melihat bekas tendangan Gifar di bawah lututku sakit kurasa, ternyata kakiku sudah lebam. Untung saja saat itu Ustadzah Nora maupun ustadz ustadzah yang lainnya tidak memasuki lokal itu, jadi kami tak perlu berurusan sampai ke kantor.
  Setelah pulang sekolah aku berlari ke rumahku, sepi, ada apa? Aku mengucap salam tapi tak ada yang menjawab, aku berjalan ke rumah nenekku dengan kaki yang sedikit pincang. Melihat apakah ada kunci rumahku disana, ternyata ada, aku mengambil kunci rumahku dan membuka pintunya. Lalu aku masuk ke kamarku mengganti pakaianku, pergi ke dapur melihat apa yang bisa dimakan. Setelah itu aku pergi keluar rumah, duduk di kursi teras, kakiku masih terlalu sakit untuk bermain.
“Icha….” Panggil Afifah,Iman, dan Velia. Aku sudah menduga mereka akan datang untuk bermain
“maaf, kakiku sakit, hAbis berkelahi dengan Gifar tadi…..” ujarku, mereka mengeluh kepadaku tapi aku tak menghiraukannya sedikit bosan Iman lalu mengajak mereka pergi. Aku menunggu kedatangan ummi Abiku, lama sekali mereka. Kakiku semakin sakit, aku mengusapnya dengan sedikit balsam, panas. Tak ada yang bisa kulakukan, setalah lama akhirnya umi, Abi, dan adik-adikku pulang
“Dari mana bi?” tanyaku segera
“Pelatihan FQ…..” balas Abi cepat
“owh…..” aku setengah berlari menuju kamarku dan membongkar tasku. Kulihat ada 2 kertas putih, aku membuka dan membacanya. O,ya. Aku ingat! Saat Dioz berkata
“Ah, Koperasi Syariah Barokah dan Pondok Zakat Barokah, Icha pasti ikut……” aku memasukkan brosur itu ke dalam tasku dan pergi ke meja belajar mengerjakan tugas, satu…… dua…… aku mulai mengerjakan tugas, mataku sudah berat, kukihat jam di dinding kamarku. Jam sepuluh, aku tetap mengerjakan tugas dan tiba-tiba aku sudah di sebuah lapangan hijau yang luas, ada pertandingan bola. Aku menjadi kipper, ah! Aku tak percaya, permainan sangat seru sekali, Hafidz dan Gifar saling mengoper bola, saat mendekati gawang lawan dan Ah! Bola kembali ke tangan lawan, mereka membawa bola itu dengan sangat hati-hati dan tak tik yang jitu, mereka menendang bola dan Ah!! Kebobolan, skor sudah 2-1, pertandingan semakin seru! Tapi, Bhuk! Aku terbangun, ternyata itu mimpi, mana ada seorang perempuan ikut bertanding bola di lapangan hijau yang luas itu? Kulihat tugasku belum juga selesai, jam di dinding mennjukkan pukul tiga, aku mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat tahajud yang diiringi witir satu rakaat. Kutunggu pagi dengan mencoret-coret buku tulis yang kubeli bersama Intan, entah apa yang aku fikirkan, aku membuat sebuah gambar monster api yang sedang menyerang kota Nizam, tanganku begitu aktif bagaikan seorang anak yang sedang berlari-lari kesana kemari, membuat bentuk-bentuk aneh seperti yang sering digambarkan Hafidz dan Fadhli, tak ada yang kulakukan selain itu.
  Akhirnya, matahari memancarkan sinarnya, aku bergegas mandi dan mengganti bajuku. Umi, Abi dan adik-adik juga sudah siap untuk berangkat, setelah sampai, kulihat masih sepi, hanya ada panitia dari PZB dan KSB. Aku berjalan memasuki gedung dewan, kuihat ada Zahran, Farhan, dan Muhammad. Sepi, aku keluar dari gedung dewan, kulihat ada sebuah kebun di belakang gedung dewan, aku memasuki kebun itu tapi, sedikit rasa takut menghinggapi hatiku, aku berlari kembali ke gedung dewan. Ustadz Sobari memberi pengarahan tentang bagaimana agar menghafal Al-Qur’an jadi seru, ceria dan menarik. Aku tak tertarik untuk mendengar ceramahnya, aku keluar dari gedung dewan dan bermain bersama Zahran dan Arif yang baru saja tiba. Setelah lama kami bermain, Arif mengajak untuk istirahat sejenak, aku dan Zahran duduk-duduk di dekat jalan raya depan gedung dewan sedangkan Arif dengan cepat menghAbiskan air aqua itu, sambil menunggu ceramah ustadz Sobari selesai, kami bercerita tentang apa yang terjadi di dekolah masing-masing Arif semangat denagn cerita horornya dan Zahran memilih bercerita dengan Muhammad. 
       Adzan Dzuhur terdengar aku dan yang lainnya cepat berjalan menuju masjid, Muhammad, Zahran dan Farhan menaiki Ambulance PZB, mereka memilih menertawaiaku, Arif, dan Thariq yang berjalan. Dengan santai kami tetap berjalan, tak terasa sudah sampai di masjod Hidayatullah, kami bergegas menuju tempat wudhu dan berlari ke masjid, bukannya sholat berjama’ah tapi kami malah sholat sendiri-sendiri, dan segera keluar bermain, setelah Dzuhur, kami kembali ke gedung dewan untuk melanjutkan pelatihan tadi, tapi sekarang ustadz Purwanto yang memberi pengarahan, beliau seorang muallaf yang menyekolahkan anaknya di SD Al-Azhar Jakarta dan mengIslamkan banyak orang serta pernah mengKristenkan orang Islam ketika dia belum mengenal Islam. Cukup seru pengarahannya, aku duduk manis di belakang, mendengar semua apa yang diatakan ustadz Purwanto, tapi hatiku sangat kesal ketika dia memutarkan sebuah video anak umur tujuh tahun membacakan surah At-Taubah, ingin aku berteriak hingga seluruh dunia tahu, aku sudah menghafal An-Naba sejak umur empat tahun, dan saat umurku Sembilan tahun aku sedah hAbis satu juz. Tapi, setelah kufikir, aku baru menghafal satu juz yang diputar tujuh belas juz, aku diam dan berlari ke luar. Bercertia dengan Arif dan Zahran, tiba-tiba ada seorang anak yang menghidupkan api di dekat kebun belakang gedung dewan itu, aku Arif, dan Zahran lalu mencari kayu untuk memegang botol plastik yang akan kami gunakan untuk bermain, permainan itu sungguh menyenangkan. Cukup lama kami bermain, jam sudah menunjukkan pukul dua, saat sedang bermain perang api, datanglah Abi Eno, ayah Zahran, dia berkata.
“Waaah, hebat yah, nanti siapa yang kena api masuk dan lapor ke Abi, mau Abi kasih hadiah…..” ujarnya, kami tertawa cekikikan, Arif menyahut perkataan Abi Eno.
“Iya bi, nanti kita lapor, hahahaha…….” Kami terus bermain tak ingat waktu, tak lama setelah Abi Eno, yang keluar ustadz Purwanto. Melihat kami dia tersenyum dan berkata
“Anak-anak ini sedang menghAbiskan masa kecilnya, hebat!” pujinya dan memasuki gedung dewan itu kembali. Aku melihat kebun yang penuh tumbuhan merambat, ada rasa ingin tahu dalam hatiku tentang kebun itu. Aku mengajak Arif memasuki kebun itu, setelah cukup ke dalam kebun, aku melihat sebuah gundukan putih kecoklatan, aku menggali dan menemukan sebuah bengkuang.
“Rif, mau bengkuang nggak?” tanyaku kepada Arif
“Mau dong mbak….” Arif membalas dengan semangat, setelah memakan hAbis satu bengkuang itu, dia memanggil Zahran dan teman-teman yang lain, seperti petualangan, kami menjelajahi kebun itu sambil mencari buah apa yang bisa dimakan, tak terasa hari sudah sore, saatnya pulang, kami pulang beiringan melewati pasar bang mego.
 Hingga di rumah terdengar adzan Maghrib, Abi segera pergi ke masjid,umi, aku dan adik-adik sholat di rumah secara berjamaah. Malam itu aku sedikit tak tenang, membayangkan seorang anak kecil yang bisa mengalahkan hafalanku, aku salah merasa selama ini hanya aku seorang anak yang bisa menghafal dalam waktu singkat, aku juga salah ketika berkata Jakarta itu hanya tempat orang-orang pintar yang menginginkan kesenangan duniawi saja. Aku terus memikirkan anak yang membaca At-Taubah dengan Tajwid Makhroj yang sangat pas, rasanya ingin aku membuat hilang hafalannya dengan cara apa saja, rasa iri dan benci terus muncul di hatiku ketika melihat seorang anak kecil mampu mengalahkan hafalanku, bahkan lulus SD ini, tak mungkin aku menghafal delapan belas juz sama dengan target FQ, sekolahku hanya menargetkan satu juz, selesai itu sudah, tapi, Alhamdulillah, Aku berhasil membuat UStadzah Nora menyetujui melanjutkan hafalanku ke juz dua puluh Sembilan. Penat sudah aku memikirkan hafalanku yang telah kalah, tak butuh waktu lama aku telah tenggelam ke dalam dunia mimpi yang indah, aku telah menjadi Hafidzah, aku juga yang mewakili Indonesia dalam lomba Hafaz se-Asean, aku telah membanggakan semua orang yang mendukungku menjadi Hafidzah, aku berhasil mengukir senyuman manis di wajah keluargaku, tak ada siapa yang tak mengenalku! Annisa Sholiha Asviani, anak sulung dari Agusari Amintasa dan Elvi Ariani, putrid dari Ustadz Agus dan Umi Elvi, tak lupa aku membawa nama Sekolahku tercinta, SDIT Rabbi Radhiyya, tak lupa aku perkenalkan semua guruku, Ustadz Fendi, Ustadzah Nora, Ustadzah Yetti, Ustadz Rahmat, Ustadz Sujud, Ustadzah Mei dan banyak lagi guru yang membimbingku saat sekolah dasar. Ah! Tapi ini mimpi, aku terbangun duduk di atas ranjang yang memakai sprai popeye berwarna biru. Aku merenung sejenak tentang  mimpi malam tadi, tidak! Itu tidak mimpi! Aku akan mengukir senyuman kebanggaan di wajah seluruh keluargaku. Aku tersenyum untuk diriku sendiri dan segera beranjak dari tempat tidur, segera shalat subuh dan bersiap ke sekolah, hari ini adalah pemilihan kelas, aku tak tahu kelas mana yang aku dapatkan, apakah aku akan kembali duduk di kelas A? ataukah B? semua masih menjadi  misteri, sampai di sekolah, semua santri SDIT Rabbi Radhiyya diperintahkan berbaris seperti saat upacara, pembagian kelas, Daeng kembali mendapat kelas B, Yayas anak bibiku mendapat A, ya, memang seharusnya dia menududuki kelas A, sejak kelas satu dia sellau menjadi juara kelas, namun hingga kelas tiga dia masih di kelas B, dan sekarang dia duduk di bangku kelas A, kelas enam, sekarang saatnya, hatiku berdebar, dan.
“Kelas enaaam, tetap seperti kemarin……” seru ustadz Fendi mengumumkan
“Horeeeeee……………..” aku dan Intan meloncat setinggi-tingginya, senang bisa menduduki lokal A kembali. Hari pertama hingga hari ke lima, kami masih saja menemani anak kelas satu bermain, hari ke enam buku paket akan dibagikan dan pelajaran akan dimulai, hari-hari kami lewati seperti biasa, hanya beda sedikit dengan kelas lima dulu.
 Hari ini, pelajaran akan dimulai, aku nyaman dengan wali kelasku yang sekarang Ustadzah Yetti, seorang Ustadzah yang Cantik, Anggun, Manis, Lembut dan Ramah, dia sudah mulai dekat denganku sejak kelas lima, dia benar-benar seorang guru yang ramah, aku selalu ingat saat dia menghiburku ketika aku sedih, melontarkan senyum manis padaku saat aku duduk sendiri, menemaniku saat lomba,memberi semangat ketika akan mengikuti lomba. Aku murid yang tidak mudah didekati, aku anak diam, tapi ajaib! Ustadzah Yetti bisa mendekatiku dalam waktu singkat, Ustadzah Yetti sering masuk dalam pergaulan kami, Ustadzah Yetti seorang guru yang sangat memerhatikan muridnya, itu yang paling kusenangi. Hari ini Rabu, Ustadzah Yetti tak terkejut ketika aku lancer dalam melafalkan juz tiga puluh karna dia dekat denganku, tapi saat ustadzah Demis yang mengetesku, dia benar-benar terkejut, aku anak diam yang punya banyak bakat, kepintaran, dan akal. Hanya saja tak semua guru mengenalku, hanya beberapa. Telah lewat sebulan, di bulan ramadhan Ustadzah mengundang kami untuk berbuka bersama, aku datang dengan menggunakan gamis hijau, ustadzah mengenalku dengan anak yang anti rok, karena jarang menggunakan rok, tapi saat itu ustadzah melihatku dan dia memujiku, aku sangat senang, ustadzah Yetti memang guru yang terbaik. Sambil menunggu jemputan, aku mengulang hafalanku, dengan lebih memperhatikan tajwid, tak lama, Abi menjemput di jalan hingga di rumah yang kuceritakan hanya ustadzah Yetti, hanya itu yang kuingat, tak ada yang kuingat selain itu. Ramadhan berlalu, tapi setiap pulang sekolah aku tak lupa muraja’ah dan menambah hafalan, aku tak ingin pujian, karena sekali lagi dipuji aku bisa langsung tenggelam ke dalam kolam pujian, ingin selalu dipuji, hingga kini hafalanku tak berkurang dan tak bertambah, sebenarnya aku ingin menambah hafalan tapi, apa guna hafalan ada tapi tanpa titik, koma. Mengulang dengan tajwid, panjang pendek, makhroj benar. Itu sudah sangat menyenangkan hatiku walau tak ada tambahan hafalan.
“Annisa, ayo sini setor hafalannya…..” panggil ustadzah Demis, aku berjalan ke arah ustadzah sambil membawa Qur’anku, Ustadzah sedikit terkejut denagn Qur’anku yang besar.
“Besar sekali Qur’annya??”
“iya tadza, Qur’an kecilnya hilang kemarin waktu lomba…..” balasku sambil mengingat kejadian kemarin.
“tidak dikembalikan dengan anak itu??”
“iya tadza, tapi, tak apalah, mudah-mudahan jadi sedekah…..” ustadaza tersenyum dengan jawabanku, aku membaca ta’awuz, basmalah dan memulai hafalanku. Setelah hafalan ustadzah menahanku.
“Nisa, menghafal bagaimana?”
“Menghafal? Dari dulu Nisa sudah diajarkan menghafal Al-Qur’an, bersama anak teman ayah yang lain, baik dari Koperasi, maupun Pondok Zakat, Nisa menghafal berpindah-pindah, dari Panti ke Rumah Ustadz, ke Musholla Al-Ikhlas dan setelah mengikuti pelatihan FQ kemarin, ayah mengajarkan Hafalan pada Nisa dan Adik-adik sendiri, setiap minggu pagi hingga menjelang siang Nisa dan Adik-adik harus menyetor hafalan dan setelah itu akan diberi hadiah sesuai hafalan…..” terangku
“Sudah banyak hadiahnya??” aku tersenyum mendengar pertanyaan Ustadzah dan langsung pamit berwudhu, dalam perjalanan aku terus berkhayal tentang Hafalanku, bermimpi suatu saat aku akan jadi seorang Hafidzah, seusai shalat aku berdo’a agar keinginanku tak hanya sekadar mimpi, tapi akan menjadi kenyataan, akan kukejar mimpi itu kemanapun dia berlari.
“Ya, Allah, jagalah selalu orang tuaku, masukkan mereka ke dalam syurgaMu, bantulah mereka untuk senantiasa bersabar dalam segala ujian dari Mu, muliakanlah Guru-guruku, jadikanlah aku dan adik-adikku beserta teman-temanku Hafidz dan Hafidzah, masukanlah kami ke dalam golongan orang beriman, Ampunilah dosa kedua orang tuaku ya Allah, sayangi mereka, kasihi mereka, jangan biarkan mereka menangis, jangan biarkan air mata mereka menitis, jauhkanlah mereka dari neraka Mu, jauhkanlah mereka dari Siksa Mu, lindungilah kami selalu ya Allah, Amiin…….”                          
                               
                                                       
 Catatan by Annisa Sholiha kelas 6 SD Bengkulu.



Share this post :

+ komentar + 2 komentar

9 Oktober 2011 pukul 18.34

kecil-kecil udah pinter nulis.. 4 jempol...!!!

10 Oktober 2011 pukul 02.51

wow, wonderfull tulisannya keren^^

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Sang Hafidz Dari Timur - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger