Headlines News :
Home » » "Jilbab Surga dari Annisa"

"Jilbab Surga dari Annisa"

Written By Munawir Borut on Senin, 05 Desember 2011 | 12.07

Pagi tak terlalu menyinari sinarnya. Berat rasanya melihat matahari seperti ini. Aku sudah mempersiapkan segala hal yang harus kulakukan pagi hari. Hari ini adalah hari yang sangat menyebalkan bagiku. Adikku Icha tidak menuruti perkataanku. Dirumah hanya aku dan dia saja yang selalu membantu Ummi. Ummi adalah salah seorang guru mengaji di Taman pengajian terdekat. Kalau aku sendiri bekerja di Perusahan Luar Negeri di Ibu Kota. Abi sudah meninggal 4 tahun yang lalu setelah aku selesai SMA. Itulah sebabbnya aku ingin sekali bekerja setelah SMA. Alhamdulillah, pekerjaan itu kudapatkan. Dan mendapatkan posisi sebagai sekertaris meneger.
Kali ini dia adalah seseorang yang selalu menjadi teman bertengkarku dirumah. Dia adalah adikku Aisha Sholiha. Nama pendeknya Icha. Namanya bagus didengar tapi tidak sama dengan sikapnya.  Rambutnya yang pendek seperti lelaki. Dia tidak suka memakai rok, terkecuali rok seragam sekolah. Di rumah aku tidak bisa membedakan antara Aisa dengan sosok lelaki. Hobinya memakai celana pendek sampai selutut. Kami sudah melarangnya. Seharusnya dia memakai celana panjang yang menutupi aurat,  tapi apa yang kami sampaikan seperti kabar angin yang membawa pesan, setelah itu menghilang.
Suatu ketika, saat aku akan melakukan solat. Aku menyuruhnya untuk solat bersamaku. Ternyata dia  sudah lari. Beberapa kali juga dia selalu mengganguku solat. Karena sangat emosi yang tidak tertahan lagi. Maka aku sudah memukulnya sampai menangis. Icha langsung melaporkan kepada Ummi.
“Nurul, kenapa kamu selalu memukul adikmu. Kamu sudah tahu kalau adikmu itu sakit-sakitan. Kenapa saja kamu sering memukulnya”Umi dengan suara lantang memarahiku.
“ Icha sering gangguin aku solat, Ummi.”
“ Dia masih kecil. Seharusnya kamu ajarkan sesuatu kepadanya. Bukan memukulnya. Lihat tubuhnya ini. merahkan”
“ Pukulnya pelan kok, Ummi. Nurul juga nga mau ajarin adik yang nakal seperti. Buat apa juga?”kataku marah dengan wajah yang sangat membengkak didalam kamar.
Ummi langsung masuk kedalam kamarku.  Melihatku yang sedang memasukkan meqenah kedalam lemari. Aku menatapnya sambil ketakutan. Icha bersembunyi dibelakang tubuh Ummi. Dia sesekali melihat. Mengeluarkan lidah.
“  Ini yang terakhir kamu memukul adikmu.   Ummi nga mau lihat lagi kalau adikkmu menangis gara-gara kamu, Nurul.  Kalau saja adikkmu dipukul lagi. Lihat saja apa yang akan Ummi lakukan buatmu, Nurul” Ummi mulai mengancam. Ancam Ummi membuatku tidak bergerak lagi. Itulah adalah ancaman dari Ummi.
Berulang kali Icha mengangguku. Dia sudah berlebihan dan keterlaluan. Untung saja aku sudah berjanji tidak akan memukulnya. Saat itu juga hanya sabar dan menahan emosi melihatnya. Terkadang aku harus mengigit bibirku atau meremas kedua jemari.
“****”
2 minggu menjelang. Saat pengajian diadakan dirumah. Aku dan Ummi sangatlah sibuk untuk mempersiapkan makanan. Apa saja dipersiapkan. Adikku tidak membantu apa yang kami lakukan. Dia lebih sibuk bermain dengan teman-teman yang lainya. Lukman dan Hamdid adalah teman dekatnya. Kalau lapar barulah dia kembali kerumah.  Aku menjebaknya. Membohonginya kalau Ibu gurunya akan ikut pengajian.
“Ibu gurumu sebentar datang, Icha. Jangan sampai Icha tidak ikut pengajian”kataku sambil memindahkan kue  ke dalam piring.
“ Yang betul kak?” tanyanya tidak  yakin. Icha yang berada di dapur bersama kami. Terkejut. Takut akan ketahuan dengan sikapnya. Ini adalah kesempatanku untuk mengertakkannya terus.
“ Betul ya Ummi”tanyanya kepada Ummi.
“ Sepertinya begitu”. Aku duluan berkedip mata kepada Ummi. Untung saja Ummi mengerti maksudku.
“ Ummi jilba Icha yang dulu dimana? tanyanya terburu. Dia menolehku. Dia mengangkat 2 jarinya. Aku hanya tersenyum.
“ Di kamar kakakmu”
“ Icha tolong dibawa keluar makanannya. Letakkan di atas meja ruang tengah”perintahku saat dia hendak berlari meninggalkan pekerjaanya.
“Iya.”jawabnya cemberut. Membawa makanan yang kubuat. Diletakkanlah di atas meja. Suara bunyi pintu kamarku terdengar.  
“Jilbabmu di atas meja kamar kakak ya Icha”teriakku keras.
“ Iya, kak.. Nih, Icha udah ambil jilbabnya.”.  
Di dalam kamar Icha memakai jilba dengan senang hati. Kedua ujung jilbab di ikat. Melonggar.  Dia berlari dengan cepat ke dalam dapur. Menunjukkan sesuatu kepada kepada kakanya dan Umminya.  Aku sedikit tertawa melihat jilbab yang dikenakan. Mana ada makai jilbab seperti ini.?  Teranyata adikku sulit sekali mamakai jilbab yang benar. Rambut depannya keluar.
“ Makainya nga seperti itu sayang..” Ummi menariknya. Melepaskan jilbab dari kepalanya. Memakaikannya dengan benar di kepalanya.  Wajahnya berseri-seri. Dia begitu cantik sekali. Kalah cantiknya denganku.  Pipi lesungnya dan bibir kemerahan.
“ Kenapa kakak lihat Icha terus. Pasti cemburukan, kalau Icha lebih cantik dari pada kak Nurul?”katanya begitu percaya diri. Tertawan sendiri.
“ Hmm…”
“ Icha besok makai jilbab seterusnya ya. Ummi senang kalau Icha makai jilba. Cantik lagi. Kak Nurul kalah cantiknya”kata Ummi membujuknya.
“Ah, nga mau Ummi. Coba saja Ummi lihat wanita-wanita yang makai jilbab. Sifatnya tidak sama dengan sifat orang yang memakai jilbab. Tingkah lakunya lebih buruk lagi. Tuh, Ummi lihat tetangga kita. Semuanya makai jilbab. Tapi mereka semua selalu melawan Ummi mereka. Nga solat. Malah ada yang pulangnya malam. Di rumah mereka sering kedatangan teman lelaki ” Icha merespon dengan cepat. Membatah  lebih cepat dari kereta api.
“ Hanya sehari saja Icha makai jilbab Ummi ya. .Panas.. Nanti rambut icha gugur lagi”katanya bersungut.
“ Iya.. Tapi nanti Icha harus pakai ya”
Aku melihat adikku menganggukkan kepala. Pastinya dia membohongi Ummi dan Aku. Icha berlari keluar dengan jilbab yang di kenakan. Suaranya terdengar sampai di dalam rumah. 
 Setelah kegiatan selesai tepat pukul 4.00. Icha sudah merasa gerah memakai jilbab. Dia langusng melepaskan jilbanya. Dia melemparkan jilbanya diatas meja seperti kain keset. Aku sudah tidak menghiraukan. Ummi mengelengkan kepala.
“***”
“ Ummi kok ada tetangga sebelah makai jilbabnya tertutup semuanya” tanya  Icha yang sedang mendapatkan informasi dari teman-temanya.
“ Oh.. Cadar maksud Icha?”.
“ Nga tahu.. Yang jelas tertutuplah gitu Ummi”
“ Iya.. Itu cadar namanya.”
“ Emang boleh ya Ummi makai cadar seperti itu”tanyanya semakin penasaran.
“Boleh. ”
“ Tapi Ummi kok nga makai jilbab seperti itu. Kakak Nurul juga nga makai jilbab seperti itu. Nga nutupin wajah. Hanya jilbab panjang” tanya Icha.
“ Nantilah Icha.. Icha saja belum makai jilba.” Ummi membalas ucapanya.
“ Icha belum siap. Kata orang kalau makai jilbab harus siap dulu.!.?”katanya langsung keluar dari rumah setelah mendapatkan jawaban. Ummi kebingungan menghadapinya. Aku didalam kamar mendengar tertawa sendiri.
“ Ummi Nurul berangkat ya..”
“ Iya sayang. Hati-hati dijalan.. Pulangnya cepat ya”
Aku sempat melihat Icha pergi kerumah tetangga yang baru diceritakan. Anak kecil itu kalau dia penasaran tidak boleh ada yang menghalangi. Dia akan kembali setelah perutnya lapar. Masuk ke dalam rumah. Kemudian keluar kembali bermain bersama anak laki-laki yang beberapa kali di marahi Umminya.
 Tepat pukul 5.00. Icha belum kembali dari rumah tetangga. Apa yang sudah dilakukan dirumah tentangga. Tidak sepertinya Icha seperti ini.  
“ Ummi, Icha dimana?”tanyaku.
“ Masih di rumah tetangga”
“ Bukanya dari pagi Ummi”kataku. 
Hanya berselang 5 menit perkataanku. Dia sudah memberikan salam. Wajahnya terlihat sangat sedih. Dia langsung masuk ke dalam kamarnya. Aku langsung mengikutinya dari belakang. Pintunya terkunci. Ummi cepat-cepat mengikutinya. Cemas.
“Icha, Icha, Icha kenapa?”.  Icha tak menjawab panggilan Ummi. Ummi mengetuk pintu. Dia diam didalam kamar. Menangis.
“ Icha, di buka pintunya sayang”kata Ummi. “ Icha nga apa-apa kan?”. Aku dan Ummi terus membujuknya agar bisa keluar dari kamar. Barangkali dia marah karena aku dan Ummi selalu memaksakanya untuk memakai jilbab. Pintunya belum terbuka. Aku dan Ummi terus memanggilnya. Akhirnya dia sendiri keluar. Dia baru saja mengeluarkan air mata. Bengkak matanya.
“ Icha nga  apa-apakan?”tanya Ummi cemas.
“ Tidak Ummi. Icha tidak apa.”
“Terus kenapa Icha di dalam kamar.?. Emangnya teman-teman Icha ganguain lagi ya?
“ Tidak”
“ Ummi..”
“ Kenapa sayang?” Ummi menariknya. Memeluknya. Mengusap air matanya. Aku mendekatinya
“ Besok beliin Icha jilba ya.. Tapi yang bisa nutupin wajah itu.. Bisa kan?"
Aku terkejut mendengar ucapanya. Tidak kusangka kalau dia begitu cepat berubah. Aku belum bisa percaya kalau dia mau memakai jilbab. Ummi melihatku. Bingung.
“ Makai jilbab panjang saja dulu ya Icha, seperti kak Nurul dan Ummi.. Entar kalau Icha sudah besar. Icha boleh makai jilbab yang tertutup wajahnya”
“ Tapi Icha mau memakai jilbab yang bisa tertutup wajahnya,Ummi”
“ Nanti Icha nga bisa sekolah.. Makai yang biasa saja dulu. Panjang seperti kakak dan Ummi ya dik”
“ Emang nga bisa ya kak.”
“ Nga bisa sayang..”
“Ooo. Iya deh.”. Entah apa yang aku bisa katakan di dalam hati saat melihat adikku begitu semangat ingin memakai jilbab. Ummi langsung menangis. Memeluknya erat-erat. Inilah yang di namakan hidayah. Selama ini yang kami tunggu adalah hidayah-Mu. Ternyata doa kami terkabulkan. Dan lebih dari itu lagi.
“ Ummi Icha lapar!”
“ Ah, kamu Icha. Kalau soal makan saja kamu cepat sekali.”. Ia tersenyum. Memukul tubuhku pelan. Aku langsung membalas dengan pukulan yang sama. Aku tertawa dengan rasa bangga yang tidak terbayangkan.
“***”
Baru 2 minggu bertugas di luar kota. Tiba-tiba saja Ummi menelponku di tengah malam. Aku langsung terkejut. Beritanya datang terlalu cepat.
“ Nurul, Icha sakit. Sekarang Ummi bersamanya di rumah sakit”katanya sambil menagis.
“Kenapa bisa, Ummi?”
“ Datang saja besok Nurul.”. Dari suaranya Ummi sangat cemas dan khawatir atas apa yang telah terjadi. Malam itu juga aku mencari travel pesawat yang terbuka dari hotel. Tugasku memang sudah selesai. Tinggal kapan kembalinya. Alhamdulillah, aku mendapatkan tiket dari travel di dekat hotel. Langsung saja aku memboking.
Pesawatku mendarat di pagi hari. Aku dengan sebuah taxi menuju rumah sakit. Cemas. Entah apa yang sudah terjadi dengan adikku. Selama ini kami adikku selalu sehat. Dan aku yang sering masuk rumah sakit, karena kecapean. 
Mobil taxi itu masuk ke dalam rumah sakit. Aku keluar dari mobil menitipkan koporku pada salah satu tempat penitipan. Berlari masuk ke dalam rumah sakit. Menelpon Ummi yang masih menungguku.
Kamar 201 adalah kamar yang di tempati adikku. Di dalam ruangan itu aku melihat adikku terkapar di atas ranjang. Dengan sebuah saluran pernapasan di hidungnya. Dengan mengenakan jilbab. 
“ Ummi..”aku membangunkannya dari tidur. Ummi dengan pelan mengangkat kepala. Memperbaiki jilbabnya.  Dia terasa sangat capeh. Aku melihat Icha dengan bantuan oksigen dihidungnya. Aku tidak tahu apa yang dialami Icha. Aku tahu dia sakit, tapi tidak separah ini.
“ Kenapa dengan Icha?” tanyaku cemas. Meletakkan tasku di atas meja.
“ Ummi tidak tahu. Tiba-tiba saja adikkmu jatuh setelah pulang sekolah.Teman-temanya mengantarnya kerumah.  Darahnya keluar dari hidung. Icha tak sadarkan diri dari kemarin. ”
“ Apa yang dikatakan dokter mengenai penyakitnya, Ummi ?”
Ummi terisak. Menangis. Air matanya jatuh membasahi wajahnya dan jilbabnya. Ummi tak menjawab pertanyaanku.
“ Icha sakit apa Ummi?”
Ummi menarik napas. Mengusap air matanya. Aku cemas. Walau adikku pernah melakukan sesuatu kepadaku, namun itu sudah terbiasa bagiku.
“Adikkmu terkena kanker otak.”kata Ummi tersendak-sendak meneteskan air mata. Aku terkejut menatapnya dengan oksigen. Mengeluarkan air mata. Bingung dengan penyakitnya. Mungkin saja ini penyakit yang sama diderita oleh Abi dulu.
“ Apa Icha bisa selamat”
“Tidak tahu nak.. Hanya izin Allah sajalah”jawab Ummi begitu pesimis dengan penyakit yang di anak sulungnya.
Aku cemas dengan jawaban Ummi. Melihat Icha dengan saluran di hidung, dan sebuah tabung besar menemaninya.  Wajah adikku cantik sekali. Ragu akan kehidupannya. Di depannya aku banyak berharap akan keridhoan-Mu, belas kasih-Mu.
1 hari aku di rumah sakit. Ummi sudah 3 hari. Dia tidak mau kembali sebelum melihat anaknya sadar. Dan hembusan angin masuk melalui jendela. Langit begitu cerah. Ummi memengang tangannya. Tiba-tiba saja tanganya bergerak kecil. Matanya sedikit terbuka. Kemudian terbukan lebar.  Aku sangat gemberi melihat apa yang terjadi.
“ Ummi, Ummi, Ummi” Icha memanggil Ummi dengan  nada pelan. Ummi lekas menjawab.
“ Kenapa sayang.?”
“ Icha haus”
Aku mendengarnya langsung mengambil air. Memenuangkan segelas air di mulutnya.
“ Kak Nurul kok ada disini. Bolos  kerja ya?”katanya pelan  tersenyum. Bibirnya kering.   Aku yang mendengar ucapanya menangis mendengar ucapanya. Tak tahan akan air mata ini keluar. Tidak… tidak… Ya Allah aku tidak tahan melihatnya. Ya.. Allah aku tidak mau air mata ini jatuh dihadapannya.
“ Kakak jangan menangis.. Icha nga apa kok”
“ Tidak.. Kakak hanya senang kalau Icha sudah sembuh” jawabku sambil manahan air mata.

“***”
Empat hari sudah Icha di dalam ruangan. Kondisinya sudah membaik. Sudah bisa bergerak sendiri.  Satu persatu rambutnya mulai berguguran. Namun dia tidak mau melepaskan jilbabnya.
“ Icha di lepasin jilbabnya ya.. Nanti rambutmu gugur?”
“ Biarkan saja kak.. Nih jilbab nga boleh dilepasin”
“ Tapi rambut Icha terus berguguran sayang?”kataku bersunggut. Kali aku harus bersunggut dihadapan adikku.
“ Ngga mau kak”.. Akhirnya aku tak bisa memaksakannya. Mengikuti perintahnya. Kemudian seorang dokter cantik masuk. Menyuruhnya melepaskan jilbab. Icha tetap saja dengan penderianya.
“ Nurul nga usah dipaksain adikmu lepasin jilbabnya.!
Aku menganggukkan kepala. Beta pentingnya jilbab baginya. Aku sangat merasa beruntung sekali memiliki adik seperti dia. Dan saat ini aku tak mau dia pergi.
“***”
Setelah 6 hari merasa legah melihat kondisinya. Tiba-tiba saja Icha langsung pinsang. Ummi langsung keluar memanggil dokter dengan keras meminta tolong.  Dokter-dokter dan suster dengan cepat masukkanya di dalam ruang ICU. Memasakan oksigen kembali.
“ Nurul dimana.. Icha sekarang dalam keadan gawat. Cepat datang ke rumah sakit” kata Ummi terdesak sambil menangis.
Aku langsung cepat berlari dari kantor. Keluar di luar menghentikan sebuah taxi di depan kantor. Menyuruh sopir ke rumah sakit.  Mataku selalu menghadap ke atas sambil memohon bantuan atas semuanya, keselamatan adikku. Setetes demi setetes, mataku mulai berlinang. . “Ya Allah selamatkanlah Icha.. Ya Allah hanya Engkaulah segalanya”. Mobil menancapkan gas dengan cepat. Menerobos setiap jalan.   Namun sayang saat tiba di sana kecepatan itu tidak bisa menyelamatkan siapa-siapa.  Di dalam ruangan Ummi sudah menangis. Histeris. Entah apa yang terjadi. Tapi aku sudah menangis mengeluarkan air mata. Hanya sepengal kain putih yang sudah menutupinya. Ummi berteriak-teriak memanggil namanya.  Air mataku keluar terus- menerus. Membuka kain putih. Dia masih mengenakan jilbabnya. Aku tidak berani melepaskan jilbabnya.  
“***”
Rumahku semakin sepi. Tak ada lagi canda, gurawan. Dan selama kepergian Icha, ummi lebih sering duduk sendiri. 2 minggu lamanya kamar Icha tidak disentuh oleh aku dan Ummi. Namun, kenapa tiba-tiba saja hatiku merasakan sesuatu yang berbeda dengan kamarnya. Rasa ingin tahu.  Aku mulai masuk ke dalam kamarnya. Ummi tidak mau masuk ke kamar Icha. Ummi lebih berusaha untuk menghidari ingatan bersama Icha.  Lalu kubuka pintunya. Aku terdiam. Air mataku menetes seperti lilin. Diatas meja ada sebua diary. Aku  sejenak membaca diary yang dibuatnya.
Kakak , Icha sudah tahu jawaban  kenapa Icha disuruh memakai jilbab. Dulunya Icha tidak suka memakai jilba, karena banyak orang yang memakai jilba. Tapi sifat mereka tidak sama dengan sifat seorang muslimah sebenarnya. Itulah Icha nga mau memakai  Jilbab. Tapi sekarang icha sudah tahu kenapa Icha harus memakai jilbab.
Kata Ummi Aisya tetangga sebelah. Jilba hanyalah kain biasa. Namum kebanyakan dari kita tidak tahu arti jilbab itu. Icha bertanya kepada Ummi Asya tentang hakekat jilbab. Maka Ummi Aisya menjawab.
“Hakekat jilbab adalah hijab lahir batin.”
“Hijab mata kamu dari memandang lelaki yang bukan mahram kamu.
“Hijab lidah kamu dari berghibah (gosip) dan kesia siaan, usahakan selalu berdzikir kepada Allah SWT.
“Hijab telinga kamu dari mendengar perkara yang mengundang mudharat baik untuk dirimu maupun masyarakat.
“Hijab hidungmu dari mencium cium segala yang berbau busuk.
“Hijab tangan-tangan kamu dari berbuat yang tidak senonoh.
“Hijab kaki kamu dari melangkah menuju maksiat.
Hijab pikiran kamu dari berpikir yang mengundang syetan untuk memperdayai nafsu kamu. Hijab hati kamu dari sesuatu selain Allah SWT, bila kamu sudah bisa maka jilbab yang kamu pakai akan menyinari hati kamu, itulah hakekat jilbab
Kakak, jadi Icha sudah tahu hakekat jilbab. Icha berharap kalau kakak nanti bisa seperti Icha. Memakai jilbab tidak hanya menutupi kepala, tapi semuanya ditutupi. Icha hanya punya satu jilbab didalam lemari. Nanti kakak pakai ya buat Icha.

Air mataku bercucuran. Aku tak kuat tahan lagi membaca Diarynya. Setelah itu aku membuka lemarinya. Sebuah jilbab hitam yang dia titipkan. Dan sebuah kertas kecil bertuliskan namaku.
“ Buat kak Nurul Soliha yang cerewet”



Share this post :

+ komentar + 1 komentar

29 Mei 2012 pukul 00.25

Huaaa..
bkin nangis,

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Sang Hafidz Dari Timur - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger