Headlines News :
Home » » Orang Miskin Punya Mimpi

Orang Miskin Punya Mimpi

Written By Munawir Borut on Sabtu, 24 September 2011 | 06.45


Saat musim panas tiba. Saat itulah banyak orang bersyukur kepada Tuhan. Padahal beberapa wilayah mulai mengeluh karena kemarau panjang. Gagal panen, susahnya air bersih.  Semuanya itu bisa kita lihat di beberapa stasiun TV.
Dan sinar matahari kali ini lebih panas dari beberapa hari yang lalu. Aku sudah ada didalam Fery  penyeberangan antara Galala dan Poka. Walau tadi nasibnya tidak seberuntung beberapa hari yang lalu. Tapi karena  seorang gadis kecil menawarkan daganganya kepadaku sambil tersenyum membuatku termotivasi. Aku juga  ingat dengan seorang anak kecil dari seberang sana yang selalu menamaniku Chat in FB tiap hari. Menanyakan kabarku. Mengeluh kalau Abinya belum datang. Dan lebih parah lagi dia harus menceritakan tentang teman-temannya yang nakal yang selalu menjihilinya tiap hari?.
Melamunku terlalu panjang. Sampai suara gadis kecil yang menawarkan dagagannya tidak kudengar. 
“Kak nga beli ya?’tawar gadis kecil yang berada disampingku sambil tersenyum. Aku dengan cepat menoleh kearah sampingku. Menatapnya pelan-pelan. Gadis itu tingginya setengah dariku. Dan tubuhnya terlalu kurus. Umurnya 10 tahun.  
“Namamu siapa dik ’tanyaku saat berada  disampingnya.Anak kecil yang tingginya setengah dariku. Dengan wajah yang sangat cantik. Kedua pipinya lesung.
“Laisa’jawab anak itu pendek.
Kelas berapa?’tanyaku kembali.
Gadis kecil itu diam tak bersuara. Dia acuh tidak menghiraukan pertanyaanku. Wajahnya sesekali melihat beberapa teman-temanya yang sibuk menawarkan dagangan mereka.
“Kelas berapa  dik?’tanyaku sambil mengambil permen didalam keranjang jualannya. Mengeluarkan uang 1000 rupiah didalam saku celanaku dari sebelah kiri.
“Nga sekolah lagi.” Jawabnya sedikit jengkel denganku.
“ Benaran nga sekolah?”tanyaku tidak yakin.  Aku sedikit bercanda dengan Gadis kecil  itu. Wajah cantiknya mulai memerah. Gadis kecil itu berpikir kalau aku menertawainya. Seandainya dia menjawab dengan sungguh-sungguh pasti aku tidak akan bertanya lagi. Aku juga tidak akan tertwa seperti ini. Gadis kecil itu pasti berpura-pura kepadaku.
ORANG MISKIN DILARANG SEKOLAH, kak” Anak itu menjawab pertanyaan dengan spontan kepadaku. Dia sontak terdiam dan kepalanya tunduk kebawah lantai. Wajahku yang tadinya penasaran langsung terkejut.
“ Kok bisa dik?’
“ Iya..”jawabnya tanpa memberikan alasan.  
“ Orang miskin bisa sekolah. Orang miskin juga pantas mendapatkan pendidikan. Kenapa kamu mengatakan begitu?”. Aku pelan menjelaskan. Semoga saja dia bisa memahami apa yang kujelaskan walau hanya beberapa kalimat.
Beberapa menit aku diam. Dia juga ikut berdiam tidak mau berbicara. Walau aku sudah berdehem. Gadis kecil itu tidak berubah dengan katanya. Dia tertunduk.
“ Orang miskin didalarang sekolah, kak. Sudah 10 kali aku disuruh untuk melunasi uang SPPku. Tapi aku selalu mengatakan kepada mereka kalau nanti aku sudah mempunyai uang. Barulah aku bisa membayar. Tapi sekolah tidak memberikan kesempatan kepadaku. Beberapa kali aku harus keluar kelas dan tidak di perbolehkan masuk untuk mengikuti pelajaran.”  Gadis kecil itu masih bersikukuh menjawab apa yang kutanyakan. Aku tidak terlalu berani bertanya kembali. Dia mempunyai alasan kenapa dia tidak sekolah. Kali ini sekolah baginya tidak penting. Asalkan bisa makan. Itu sudah tepat buatnya.
Tiupan angin begitu sejuk membuat rambutnya  yang terurai kebawah sedikit terangkat. Saat itu juga aku melihat rencana pembuatan Jembatan Merah Putih yang menghabiskan Hampir 1 triliun rupiah. Berjejeran bendera merah putih diatas pasir.  Padahal untuk sementara kota Ambon belum juga memerlukan jembatan itu. Dan seandainya diberikan 0,1% untuk biaya pendidikan Gadis kecil ini. Pasti lebih bermanfaat
“ Masih mau sekolah?”tanyaku
“ Nga mau sekolah lagi kak” jawabnya begitu pesimis.
“ Ibu sakit.. Sekarang masih ditempat tidur. Dan kalau aku sekolah, siapa yang akan merawatnya. Membelikan obat baginya. Adikku Radit yang harus sekolah. Aku akan membantu mereka berdua. Sudah tanggung jawabku”.
Aku berhenti bertanya. Seumpanya aku kembali bertanya, maka dia akan berdiri dari tempat duduk ini. Dia tidak mau bercerita lagi kepadaku. Sempat aku terlupakan dengan kejadian antrian pengembalian Username.  
Pantas saja kalau aku selalu mengatakan “ ORANG MISKIN DIDALARAN SAKIT”. Dan kata  lelucon itu benar-benar ada.
“ Sudah dibawah kerumah sakit?”
“ Masih dirumah..”
 “ Kau tahu. Dulu kakak juga pernah merasa hal yang sama denganmu. Kakak selalu mengatakan kalau orang miskin tidak pantas sekolah. Tapi Abi selalu mengatakan kalau “ ORANG MISKIN PUNYA MIMPI”. Karena Mimpi orang miskin lebih jauh dari pada orang-orang lain. “ ORANG MISKIN JUGA PUNYA HARAPAN”.
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Sang Hafidz Dari Timur - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger