Headlines News :
Home » » (Cerpen )Ann Ingin Azan

(Cerpen )Ann Ingin Azan

Written By Munawir Borut on Selasa, 27 Maret 2012 | 17.20

 
Gelap gulita. Malam itu tidak ada bintang sama sekali. Kali ini bintang malas menerangi bumi. Semua cahayanya sudah ditupi oleh awan. Besok juga akan sama. Entah kenapa?. Mungkin saja bintang dan bulan lagi berskongkol tidak mau lagi bercahaya. Bukan, ini karena kehendak-Mu, perintahmu.

Di sebuah mesjid yang terlalu sepi tak berpenghuni. Tidak terlalu besar. Hanya taman rusak tak ada bunga sama sekali. Tidak ada sama sekali rumput dipelataran. Iya, anak kecil berbadan halus dan hanya memiliki tangan sebelah kri. Disetiap hari duduk sendiri menatap rembulan. Saat rembulan itu ada. Anak itu duduk sendiri melihat rembulan. Rembulan yang terlalu indah membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi.


Nama Farhan, Farhan yang kebanyakan huruf tidak bisa diucapkan. Yang mengucapkan namanya saja sulit. Sampai harus mengatakan kepada siapa yang bertanya tentang namanya. " selalu mengatakan An".  Percuma juga menceritakan tentang Farhan, karena dirinya sendiri malas untuk mengatakan siapa sebenarnya dia. Ketika di lahirkan bapaknya sudah lebih awal meninggalkanya. Malu karena memiliki anak cacat, anak berpenyakitan. Terserahlah, hanya orang tua bangsat sajalah yang tidak mau memelihara anaknya sendiri. Tidak peduli. Cacat, atau apalah.. Dia adalah anak yang dititipkan Allah.. Bukan kehendaknya untuk lahir kedunia.  Orang tua egois brengsek yang patut dicelah setiap saat.

Dua tahun yang lalu sebelum ibunya meninggal. Farhan sudah di titipkan di sebuah mesjid.  Mesjid yang penuh dengan kotoran, rerumputan. Mesjid yang tak berpintu. Hanya seorang kakek yang rajin datang untuk solat bersamanya. Atau membawakan roti dan makanan buatnya. Kakek yang lebih mengerti bahwa setiap orang didunia ini akan mati. Lalu sibuk mencari bekal di akhirat nanti.

Menjelang satu minggu terdengar kabar kalau kakek tua itu sudah meninggal. Ann tidak sempat kesana. Ann tidak tahu dimana rumah kakek tua itu. Di dalam mesjid Ann yang membacakan doa tidak lancar, tidak fasih mendoakanya agar diberi tempat disurga.

****

Tidak ada yang azan. Mesjid itu seperti rumah hantu. Farhan tidak bisa azan. An tidak bisa melafadzkan setiap ucapan Allah. An seperti seorang yang  bisu. Kalau solat An hanya azan di dalam hati. Setelah itu solat sendiri. Sampai setengah mati-pun An tidak bisa mengatakan Allah. An hanya mengatakan di dalam hati.

" Ya Rabb lidah ini milik-Mu.. Gerakkan lidah An untuk mengucapkan nama-Mu walau sekali agar An bisa menjawab di alam kubur dengan pertanyaan " Siapakah Tuhan-Mu?" An duduk menangis saat berdoa.

" Ya Allah An hanya ingin mengucapkan nama-MU"Ann yang mengucapkan azan ddalam hati itu menangis.

" Ya Allah sekali saja, agar An tidak di masukkan dalam neraka-MU"didalam hati.

Dan aneh bin ajaib. Suara didalam hatinya itu bisa membangunkan orang-orang di tempat nan jauh disana. Suara azan yang begitu indah sekali. Orang -orang yang biasa mengerjakan solat keheranan dengan kejadian itu. Iya, semua itu urusan dan kehendak Allah. Tidak ada yang bisa menandinginya. Dia hanya mengatakan " Jadi maka jadilah".

***

Pagi setelah solat subuh selesai. Farhan dengan kain sarung pemberian ibunya. Sobek dibagian belakang memengang sapu dengan tangan kiri membersihkan seluruh mesjid. Lantai yang awalnya  berdebu di pel dengan sebua baju merah hadiah ulang tahunya itu. Belum dipakai sama sekali.

Suatu ketika saat Farhan sendang membersihkan pekarangan mesjid dengan perut yang sangat lapar. Segerombolan anak-anak melintasi mesjid. Tertawa melihatnya. Ada yang sempat mengatakan " Hei anak cacat, buat apa kamu disitu". Farhan hanya terdiam membalas senyum. Percuma juga membentak mereka. Karena mereka sama seperti orang tua meraka. Tugas mereka di dunia adalah menghina dan mencela. Bukan main hinaannya.

Ingatan tentang ucapan ibunya membuatnya harus tegar. " Farhan punya satu teman yang selalu mendengar Farhan. Allah itu teman Farhan. Dia tidak pernah diam." Ann dengan lincah menggangukkan kepala.

Di sudut jalan sana, sebuah roti donat di dalam plastik bergelantungan. Mata-nya berkilau. Farhan mendekati plastik berwarna bening itu. Dua buah roti. Di lahapnya sampai selesai. Perut yang tadinya lapar hilang dengan sekejap. An melanjutkannya pekerjaanya.

***

Hujan lebat, angin kencang. Ann dengan kain sarung menutupi tubuhnya kedinginan. Dia terkejut ingin menutupi pintu mesjid. Ah, tidak ada pintu disana. Dia melangkah mencari tempat yang lebih asik untuk tidur agar tidak bisa merasakan kedinginan. Di sebuah mimbar mesjid yang sudah patah bahagian kirinya. Disitu Ann mulai tidur. Bunyi guntur yang berulan kali mengejutkanya. Akhirnya Ann dengan mata tertutup bangun. Dia tidak bisa lagi tidur seperti biasanya. Hujan tak berhenti. Benar-benar tidak mau sama sekali. Sebuah pohon besar berbunyi keras mengejutkan warga. Mereka terbangun. Pohon itu tumbang tertiup angin kencang.

Beberapa mesjid sudah mengumandangkan azan. Farhan bergegas keluar dari mesjid. Mengambil air wuduh hasil dari hujan  kemarin sore. Hujan lebat membuatnya harus mengisi setiap drem yang sekali-kali bocor. Iya, air hujan yang selalu digunakan untuk wuduhnya, air minumya. Sampai sekarang dia tidak pernah merasaka rasa sakit dari air itu. Hanya kenikmatan.

Setelah wuduh, Farhan hanya mengumandangkan azan didalam hatinya. Farhan tidak bersuara. Kalau suaranya jadi-pun percuma. Tidak ada sama sekali ampli, mike, salon disini. Bukan hanya itu, al'quran saja sudah tidak ada lagi. Kakek penjaga mesjid yang sudah meninggal itu yang memberikan al'quran. Didepan sudah rusak. Beberapa huruf sudah tidak tahu lagi. Siapa juga mau solat, mereka semua lebih sibuk dengan urusan dunia mereka. Lebih sibuk dengan perkara-perkara mereka.

Di suatu tempat disana mereka terbangun mendengar suara azan subuhnya. Semua orang bertanya tentang suara anak kecil itu.


***

Dan malam itu tiba, Bulan purna pun datang. Ann yang duduk dengan lampu pelita. Melihat  langit cerah. Tiupan angin segar.  Purnama yang berkilau. Cahaya bumi terang benerang. Seorang kakek dan seorang ibu tua mendekatinya. Mereka duduk bersamanya.

" Kakek akan menunggu An disurga nanti"kata kakek tua itu memulai pembicaraan awal.

" Ibu juga An. An tidak sendiri disini. Semua orang disurga sana sedang melihat Ann. Dan kau tahu An, bulan purna itu hendak menangis melihat-Mu bersedih.. Ann tidak sendiri.. Beberapa dari mereka menunggu-Mu"kata Ibunya.

Ann menangis.  Merasa sendiri berada didunia ini. Ann hanya bisa mengusapkan matanya.

" Ann ingin ikut ibu saja"katanya dari dalam hati.

" Ann disini saja. Tidak ada yang mengumandangkan azan Ann. Tidak ada yang mau membersihkan mesjid. Jangan dulu.."kata ibunya..

Lantas sekejap mereka pergi meninggalkanya sendiri. Lampu pelita itu tiba-tiba saja mati. Ann yang bingung mencari korek. Takut dengan kegelapan. Keluar menuju rumah dekat mesjid. Sayang lampu yang terang itu tidak lain adalah orang yang bakhil dengan harta.

" Ada koyet?"pintanya pada sebuah rumah besar berlantai 2 megah berwarna merah. Dengan hiasan lampu yang tak tahu harganya berapa.

" Ada koyet.. An, iza?"pintanya. Wanita sombong itu tertawa mendengar ucapanya. Malah dia harus menyuruhnya untuk berkata beberapa kali lagi. Lebih sempurna. Anak perempuannya  yang hendak memberikan korek di suruh masuk kedalam kamar.

Di depan pintu wanita itu lebih sibuk mengerjainnya. Ann tetap tegar. Ann harus tegar. Bola mata Ann sudah basah. Tidak lain ulah orang kaya yang sombong itu. Dia hanya bisa memberikan korek bekas yang entah bisa menyala atau tidak.

Di saat Ann hendak menyalakan korek gas itu. Tidak ada api sama sekali. Di putar-putar. Tidak ada api yang muncul. Malam itu juga dengan ketakutan Ann lebih sibuk untuk menyalakan korek. Sampai tanganya harus berdara.  Walau ketakutan. Dia memakasakan bola matanya tertutup.

" Ya Allah Ann ingin tidur, bangun Ann disaat azan nanti.. Ann takut kalau Ann tidak azan"katanya pelan menutupi mata

****

" Dimana Ann sekarang"katanya dengan ucapan yang begitu lancar keheranan. Matanya memandang kekiri dan kekanan. Tempat ini indah bukan main. Tidak satu-pun kotoran ada. Bunga-bunga yang indah.

" Kau disini saja Ann"kata kakek yang pernah bertemu denganya.

" Tapi siapa yang membersihkan mesjid?"katanya galau

" Ann disini saja.. semua orang menunggu Ann disini"

" Tapi Ann mau azan.. Ann mau azan disaat solat nanti. Ann ingin mengumandangkan suara azan, bisakan?"katanya ingin kembali.

" Tapi Ann!!"kata itu terhenti saat Ann terkejut mendengar suara azan entah dari mana suaranya. Dan suara yang sangat merdu. Meski hujan yang sangat deras. Tapi suara itu terdengar sampai membuatnya terkejut. Ann keluar mengambil wuduh. Baju dan kain sarungnya basah terkena hujan.

Ann berdiri dengan gagah. Walau bunyi hujan yang sangat deras. Tanpa tidak sengaja. Ann dengan suara yang lantang dan Fasih mengumandangkan azan. Membalas azan dari mesjid seberang. Satu sama lain saling mengumamdangkan azan.

Sampai azan ucapan terakhir kalimat syahadat Ann tidak tahu kalau dia sudah bisa azan. Ann tak menghiraukan apa yang sudah terjadi. Di depan dia menghadap kiblat. Mengucapkan takbir. Melakukan solat seperti yang lain.

" Ya Allah aku sendiri yang mendengar suara Ann. Ya Allah suara yang indah."

Dan saat dia hendak mengangkat kepala ketika bersujud dihadapan Allah.. Dia langsung terjatuh. Terjatuh disaat belum menyelesaikan perinta-MU.Ann terjatuh tak bernyawa.. Dan langit tiba-tiba terang menderang.Hujan berhenti sejenak.

****

Entah dari mana mereka.  Beberapa warga yang tidak tahu keheranan dengan kedatangan mereka. Mereka yang tidak tahu asal. Dengan bahasa yang serba aneh. Bertanya-tanya tentang Farhan. Di depan mesjid sebuah bendera putih di pasang. Bingung. Semuanya hendak kesana. Iya, seorang anak kecil yang beberapa hari lalu meninggal. Tubuhnya tidak berbauh.

Bukan bau bangkai yang mereka cium, tapi bau wangian hampir seluruh mesjid. Beberapa yang melihat menangis melihatnya yang tertidur dengan sujud. Mereka yang hendak mengangkatnya menangis. Mengusap air mata mereka. Salah seorang yang hendak memengang tubuhnya langsung berteriak..

" inikah dia yang selalu membangunkanku didalam solat.. Inikah dia Ya Allah"

Beberapa yang tak mengenalnya menangis. Membangunkannya.. " Ya Rabb siapa lagi yang hendak mengumandangkan azan nanti ya Rabb" lelaki yang tak mengenalnya mengoyangkan tubuhnya. Namun sayang anak kecil itu sudah punya tempat sendiri.

***

Di pagi hari itu semua orang dari belahan dunia itu mendengar kabar. Mendengar berita yang tidak tahu siapa yang memberikan informasi kematian Muhammad Farhan. Ada yang hendak datang menyolatkannya. Bingung dimana.  Di pelosok nan jauh sana mereka duduk berdoa untuk kesalamatan  Muhammad Farhan disurga.

Tak ada lain yang datang. Seorang imam berdiri didepan mayatnya. Dan ratusan jemaah memenuhi mesjid yang awalnya tak berpenghuni. Semua beramai-ramai menyolatkannya.  Warga yang tidak tahu ikut beramai-ramai menyolatkannya.

" Ya Allah tubuhnya dipenuhi dengan wangian yang entah dari mana?..Tubuh ini seperti kapas di angkat. Senyumnya.. Subahanallah.. Ya Rabb.."

****

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal…." (QS Ali Imron : 190)

******

***

 صَلَّى بِنَا عُمَرُ صَلاَةَ الْفَجْرِ فَقَرَأَ سُوْرَةَ يُوْسُفَ حَتَّى إِذَا بَلَغَ : ( وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ ) [ يوسف : 84 ] بَكَى حَتَّى انْقَطَعَ

فَرَكَعَ

"Umar bin Al-Khottoob mengimami kami sholat subuh, lalu ia membaca surat Yusuf hingga akhirnya sampai pada ayat "Dan kedua mata Ya'qub menjadi putih karena Kesedihan dan Dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya)" (QS Yusuf : 84), maka Umarpun menangis hingga tidak mampu melanjutkan bacaannya lalu iapun ruku" (Syarah Shahih Al-Bukhaari karya Ibnu Batthool 10/281)

***

"Di dunia ini setiap menit terdengar suara Azan dari setiap Mesjid"
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Sang Hafidz Dari Timur - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger