Headlines News :
Home » » (Cerpen) Hadia Pidato Untuk Fatimah

(Cerpen) Hadia Pidato Untuk Fatimah

Written By Munawir Borut on Selasa, 27 Maret 2012 | 17.37

 
Cuaca tidak senormal yang dulu lagi. Beberapa tanamku mati.  Terkadang hujan, terkadang panas. Biasanya hujan itu turun sesuai dengan musimnya. Kali benar panasnya sangat berbeda sekali. Kalau saja terkena ditubuh, maka tubuh ini terasa sangat pedis sekali.  Beberapa berita mengatakan bahwa lapisan ozon sudah menipis. Anehnya juga ada yang mengatakan kalau saja 2012 akan kiamat. Aku tidak percaya. Bagaimana bisa, seharusnya soal urusan kiamat atau yang lain adalah keputusan Allah. Manusia hanya bisa menerka saja. Kiamat..Kiamat.  

Saat tiba dikelas, pelajaran biologi baru saja dimulai. Aku agak terlambat. Cuma 15 menit. Bu guru baru saja membuat sebuat gambar dunia. Dan dia menerangkan tentang lapisan ozon sekarang. Di sekolah semua terkejut melihat itu. Apalagi saat ibu guru memutar sebuah film dukementar tentang  lingkungan yang mulai rusak oleh ulah manusia dan berakibat pada manusia.  



“ Inilah lapisan bumi kita sekarang.. Sudah rusak oleh ulah manusia. Manusia sudah terbiasa merusak lingkungan.. Menebang pohon, membuang sampah sembarang. Membangun pabrik-pabrik sampai asab-asabnya mulai menganggu lapisan ozon. Ibu guru tidak bisa membayangkan kalau kalian besar nanti. Mungkin saja kalian semua tidak akan bisa bernapas.”kata bu  Ani guru biologi kami.

“ Jangan kalian ikut seperti manusia  yang ada dalam film itu.. Kalian seharusnya bisa mengubah sesuatu untuk masa depan kalian.” Kata bu guru mematikan film dan penjelasan terakhir.

Kami menyimak benar apa yang sudah terjadi saat ini. Saat duduk didalam kelas dengan beberapa teman. Saat itu juga aku coba membayangkan suatu saat nanti. Kalau lapisan ozon benar-benar bolong. Apa yang sudah terjadi. Pasti sulitnya sekali bagi kami. Terus apa yang bisa kami lakukan. Kami ini masih anak-anak kecil. Tidak ada jawaban dalam benak ini.

“Sekarang apa yang kalian lakukan untuk bumi ini”tanya bu guru.
 “ Membuang sampah pada tempatnya bu?jawabku.
“ Betul.. Yang lain”
“ Menanan pohon kembali”jawab salah seorang teman dari sebelah pojok bagian belakang.
“ Bagus. Itu yang seharusnya kalian lakukan. Bukan membuang sampah sembarangan, bukan menebang  pohon sembarangan.”

“Kalau memotong rumput yang berkeliaran disekolah gimana, bu?”tanya Ationg dengan kocaknya. Aku membalik badan tertawa. Yang lain juga ikut tertawa melihatnya. Tebak saja kalau disini bu guru menjelaskan tentang pohon. Dia bertanya mengenai rumput-rumput yang berkeliaran. Pasti dia baru bangun tidur.

Ibu Guru Ani hanya tertawa tipis. Langsung menjawab pertanyaan yang diberikan kepadanya. Pendek kata dia juga tidak mau bercerita tentang apa yang terjadi sekarang. Intinya adalah praktek itu adalah kalimat penutup yang disampaikan sebelum bunyi bel berbunyi.

Saat pulang sekolah. Seorang anak kecil namanya Fatimah. Dia memanggilku. Aku membalik badan menunggunya yang sedang berlari. Dia mengekeng tas berat, dan mengopoh sebuah buku besar. Aku berdiri dengan salah seorang teman menunggunya. Karena aku adalah bagian dari pengurus OSIS sekolah, selayaknya aku bersikap ramah kepada siapa saja.

“ Ada apa Fatimah?”tanyaku. Fatimah menarik nafas. Kami menunggu apa yang akan dia tanyakan. Fatimah adalah pengurus OSIS. Mungkin saja dia terkesima saat aku menjelaskan tentang lapisa ozon yang mulai menitipis. Dari penjelasanku di ruang OSIS. Dai yang selalu aktif.
Sesama pengurus OSIS bisa beramah tamah dengan yang lainya. Dia langsung memengang tanganku. Mengajakku duduk dibangku depan kelas 3.  

“ Boleh aku bicara sedikit dengan kak Anis?”pinta Fatimah sambil mengeluarkan napas pelan-pelan sambil berjalan ketempat duduk.

 “Apa yang bisa dibantu, Fatimah?”

“ Begini kak.. Di desaku mulai banyak penebangan hutan kak. Kami semua sangat takut akan terjadi sesuatu dengan desa kami. Hutan itu semakin gundul. Tidak ada lagi pohon-pohon. Semua sudah rata dengan tanah. Semua binatang yang biasa kami lihat juga sudah tidak ada lagi. Entah kemana mereka. Tahun kemarin desa kami mengalami banjir. Walau tidak ada sampai di rumahku. Kak Fatimah sangat takut kalau saja hujan deras datang. Pastinya desa kami terkena banjir besar-besaran.  Beberapa desa sudah melaporkan kepada pihak yang berwenang. Namun hasilnya sama saja.”
        
“ Apa yang bisa kakak bantu buatmu?”tanyaku bingung. Kami tidak ada wewenang sama sekali. Kami hanya anak ingusan. Hal yang paling kecil yang biasa kami lakukan adalah. Membuang sampah pada tempatnya. Kalau sampai pada urusan seperti ini, bukan tanggung jawab kami.  Di Indonesia ada yang lebih tinggi. Presiden, DPR, Mentri dll. Itu tugas mereka. Sedangkan didesa ada perangkat Desa. Namun apa yang dijelaskan oleh Fatimah sungguh mengugah hatiku. Kalau saja perangkat desa sudah mengeluh dan mereka sudah tidak mengubrik lagi. Terus siapa lagi yang kami keluh. Anak ini mengeluh kepada OSIS. Wewenangnya sangat kecil.

" Bisa kak bicara sama mereka?”pintanya kembali. Sepertinya dia memahami kalau perangkat OSIS bisa bertemu dengan para pejabat. Teman sebelahku tertawa. Dia berpikir apa yang sama sepertiku. Aku menyengir saja.

“ Bisa..”jawabku ragu.

“ Kalau besok kakak mau bertemu dengan mereka. Nanti Fatimah yang antarkan kakak ke perusahan itu. Perusahan itu dekat sekali dengan desa kami.”terang anak itu dengan penuh semangat. Sedangkan Nias mencolekku. Memang aku sendiri dengan spontan bingung menjawab  kepada anak ini. Biar nanti aku menjelaskannya kepadanya sendiri. Bagaimana fungsi OSIS yang ada disekolah. Setahuku tugas OSIS adalah mengembangkan tugas  sekolah bukan sampai didesa, apalagi sampai berusahan dengan orang-orang besar.

“ Kak nanti Fatimah tunggu kakak setelah pulang sekolah besok ya?”

Aku hanya menganggukkan kepala. Nias ragu dengan apa yang sudah kulakukan. Dia hanya bisa tertawa tanpa memberikan masukkan kepadaku.

“ Ini bukan urusanku Anis”katanya sambil tertawa.
“ Ah, bagaimana bisa!!
" Sudahlah besok sebelum pulan sekolah, kamu jelaskan saja kepadanya. Apa sebenarnya tugas kamu. Walau kamu sebagai ketua lingkungan sekolah. Kamu harus bisa mengatakan sebenarnya fungsi dari apa yang sudah kamu kerjakan”

Iya” kataku sedikit ragu. Expresi Fatimah sepertinya sangat yakin sekali. Dia sangat percaya kalau aku akan bisa mengubah apa yang sebenarnya terjadi didesa mereka.

Anak kecil itu hanya mengucapkan terima kasih kepadaku. Dia berjalan sambil melengak-lengok gembira. Saat sampai dipintu pagar sekolah dia tersenyum melihatku. Aku membalas senyumnya.
                                                                            ****

Semalam hujan sangat besar sekali. Dan beberapa kali bunyi leputan Guntur seperti bunyi sebuah nuklir yang dilepaskan kedasar laut. Hujan tanpa henti-hentinya. Berulang kali aku terkejut. Aku dan bapak sedang menonton  berita. Berita kali ini adalah rutinitas kebanjiran yang terjadi dikota Jakarta. Banjir ini seperti sarapan pagi bagi warga.  Semua warga mulai mengungsi. Sedangkan beberapa kali sungai di Jakarta mulai meluak dengan ketinggian melebihi batas normal.

BMG memperkirakan kalau hujan tidak akan berhenti sampai beberapa lagi. Dan cuacanya semua wilayah hampir sama. Aku dari tadi kebingungan mencari jawaban atas pertanyaan yang diberikan oleh Fatimah. Semalam suntuk menyusun kata dengan ditemani irama Guntur yang tidak beraturan dan kilat yang menerawan langit hitam.

Tepat jam 11.00 keputusanku adalah mengatakan kepada anak kecil itu kalau tugasku sebagai ketua hanya ruang lingkup sekolah. Kalau sampai didesa bukan tugas kami. Tapi apa mungkin dia tidak kecewa dengan apa yang kukatakan. Desa mereka butuh bantuan kami anak-anak.

Aku menunggunya disekolah sebelum masuk kelas. Didepan pagar Nias sudah menemaniku. Bagaimana caranaya. Nia sudah tahu. Penjaga sekolah bertanya terus kepadaku. Aku hanya bilang kalau sedang menunggu adik kelas. Sampai bel berbunyi. Fatimah tidak datang kesekolah.
  
Saat istirahat, tiba-tiba saja bel berbunyi. Kali ini kami disuruh apel dilapangan. Kata bu guru ada sesuatu yang terjadi dengan siswa sekolah kami. Semua berkumpul ramai. Bertanya-tanya siapa yang sudah meninggal. Dan apa yang sedang terjadi. Sebuah kota amal dikeluarkan oleh teman pengurus OSIS. Di depan sebalah kiri kami berdiri kepala sekolah.

“ Iya, hari ini kalian harus mendengar berita duka. Kalau saja beberapa anak sekolah yang ada disini mengalami musibah. Musibah itu datang seketika menghantang rumah mereka.  Hujan deras semalam membuat tanah longsor. Semua rumah tertanan oleh tanah. Dan beberapa siswa dinyatakan meninggal dunia” kata kepala dengan expresi yang sangat menyedihkan.

Aku langsung terkejut mendengar kabar berita itu. Yang aku ingat adalah Fatimah anak desa itu. Padahal aku ingin mengatakan sesuatu kepadanya. Perjumpaanku hanya begini saja. Wajah Fatimah terbayang dibenakku.  Sedikit air mata yang keluar dari kelopak mataku. Yang lebih parah lagi kalau keluarganya semua meninggal dunia.  Dan bukan hanya itu, salah seorang pengurus OSIS kami, yang kami dengar sangat kocak meninggal. Ation meninggal dunia.
Semua teman-teman mengheningkan cipta sebagai rasa bela sungkawa. Dan bendera setengah tiang berkibar di sekolah kami.
                                                                                     ***

Rapat OSIS dimulai, aku orang pertama yang berbicara mengenai lingkungan. Seharusnya kami memiliki suara. Suara kami harus didengar oleh pemerintah. Jangan-jangan mereka sibuk memakan uang besar, namun nyawa kami jadi taruhan. Rapat ini sangat membludak. Dan dari semua kesepakatan adalah DEMOSTRASI. Ide ini adalah ide ketua OSIS yang sudah gerah dengan apa yang terjadi. Namun beberapa pengurus OSIS berusaha menenangkannya. Saat ini nyawa kami semua terancam.  Penebangan hutan. Dan asab pabrik-pabrik.

Aku mulai mengeluarkan sebuah ide kecil. Mengadakan kerja bakti besar-besaran dilingkungan desa. Saat ini aku harus berperan ganda.   Aku hanya membalas apa yang diminta oleh Fatimah. Nias ikut membantu. Mengirimkan surat kepada kepala desa. Dan tangapan kepala desa sangat bagus.

Kami semua membersihkan selokan yang ada didesa. Memasang pajangan-panjangan tentang danpak membuang sampah seberangan. Menulis istilah-istilah pelarangan untuk menebang hutan. Waktu itu salah seorang pengurus OSIS menyusup keperusahan. Menempelkan sebuah pamphlet pelarang untuk mengadakan aktivitas.

Sekolah habis-habisan mengeluarkan uang buat kami. Walau demikian semua guru sangat mendukung apa yang sudah kami lakukan. Mereka ikut serta membantu. Didesa Agung semua sibuk membantu menyelamatkan warga yang masih selamat. Alat-alat yang digunakan-pun sederhana. Pembagian tugas ini sangat berat. Semua dilakukan sampai tengah malam.

Kali ini kami melakukan kegiatan tentang danpak dari penebangan hutan sembarangan. Pembicara untuk kegiatan ini adalah  bu Anis. Walau hanya pengetahuan sedikit. Itu sudah cukup bagi warga. Warga sudah mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi. Bu guru tidak sengaja menyingung perusahan yang didirikan beberapa tahun silam. Apa lagi ada hubungan dengan musibah ini.  

Ada yang mengusulkan untuk perang melawan mereka. Dan ruangan semakint tidak bisa terkendalikan lagi. Untung saja warga desa masih bisa mendengar kepala Desa.

Sekarang ini desa Agung  porak-poranda. Di sini hanya menyisahkan sejarah saja buat anak-anak. Trauma yang terjadi. Dan aka menjadi ingatan sampai hari tua nanti.  

Pak Sutarman selaku kepala desa mengucapkan terima kasih kepada kami. Karena apa yang kami lakukan sudah melebihi apa yang dilakukan oleh pemerintah. Dan terakhir sebelum aku  kembali kerumah. Dia berpesan agar aku bisa  ikut dalam kegiatan kunjungan pak Presiden. Aku hanya menganggukkan kepala

                                                                        ****

Pukul 6.00  pagi bisingan bunyi pesawat terdengar. Itu pasti rombongan para Mentri dan Presiden. Di jalan sudah banyak sekali anak-anak sekolah. Kami dengan lantang tidak akan ikut menyambut Presiden. Itu keputusan rapat OSIS.  Karena berulang kali dipaksakan, maka akhirnya kami ikut menyambut. Disebelah sana beberapa teman seperti memajang Foto korban tanah longsor. Termaksu foto teman-teman sekolah kami.

Aku duduk disebalah kepala desa. Aku juga terkejut saat namaku dipanggil. Entah siapa yang sudah menyusun kegiatan ini. Padahal disini hanya sebagai tamu.

“Bapak presiden, dan para Menteri.. Saat ini kita kedatangan seorang anak yang sangat berperan penting di desa ini…” seorang MC berkata di depan mike. Dia langsung dengan spontan menyuruhku naik keatas.  Tanpa memengang apa-apa didepan.
              
“Asalamualaikum wr,wb, namaku Nias Marzuki,  saya berbicara mewakili anak-anak Indonesia. Kami adalah kelompok kecil lingkungan sekolah yang berusia 12-13. Hanya 5 orang keanggotaan. Aku ketua lingkungan sekolah ini. Kami menggalang dana untuk membantu warga disini.  Seharusnya saya tidak bisa berbicara disini. Karena saya terlalu kecil. Namun saya ingin memberitahukan kepada orang-orang dewasa apa yang sebenarnya terjadi. Bapak-bapak  harus mengubah cara bapak-bapak, hari ini di sini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja dan sekalian anak yang ada disini.  Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yang akan datang.

Saya berada disini mewakili anak-anak yang kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar. Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan habitatnya. Kami tidak boleh tidak di dengar. Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena berlubangnya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yg dibawa oleh udara. Saya sering memancing di lautan bersama ayah saya hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker. Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu persatu mengalami kepunahan tiap harinya – hilang selamanya. Dan musibah ini terjadi juga.

Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya. Apakah bapak-bapak sekalian harus khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini ketika bapak-bapak sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang? Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahannya. Tetapi saya ingin bapak-bapak sekalian menyadari bahwa bapak-bapak  sekalian juga sama seperti saya!

"Bapak-bapak tahu saat Fatimah datang kepadaku untuk meminta tolong agar perusahan itu berhenti menebang hutan karena akan terjadi musibah. Maka aku sendiri bisa mengatakan kalau aku bisa melakukan. Aku yakin kekuatanku ada walau secuik saja. Saat  terjadi seperti ini maka kekuatan kami sangat besar. Kami hanya butuh bernapas. Itu saja. Bukan nyawa kami yang dibayar. “
  
“Bapak-bapak tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita. Bapak-bapak  tidak tahu bagaimana cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai asalnya. Bapak-bapak  tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang telah punah. Dan bapak-bapak  tidak dapat mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di tempatnya, yang sekarang hanya berupa padang pasir. Jika bapak-bapak  tidak tahu bagaima cara memperbaikinya. 

TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!”

"Dan saat ini kami bisa berbagi dengan mereka, kenapa bapak-bapak  tidak bisa melakukannya. Sekarang saat aku berdiri disini.. Aku hanya menyampaikan amanah dari adik tingkat kami Fatimah. Dia pasti menunggu apa yang ingin aku lakukan. Namun hari ini aku melakukannya untuknya. Untuk anak-anak di Indonesia. Dari sekolah kami baru saja menanan beberapa ratus tanan dihutan. Walau sekolah kami seperti ini. Tapi kami peduli dengan mereka. Bintang-bintang adalah teman kami.
  
"Saya tidak mau mengatakan kalau kami sekarang dalam keadaan aman lingkungan. Kalau masih banyak yang sibuk memberikan wewenang kepada orang-orang yang berduit untuk membangun perusahan. Menebang pohon sembarangan."

                 “SEKIAN TERIMA KASIH"

Semuanya berdiri dari tempat duduk. Memberikan tepuk tangan meriah kepadaku. Mereka sangat terharu dengan pidatoku.  Beberapa warga yang mengalami musibah menangis saat mendengarnya. Saat aku turun,  seorang lelaki tua memelukku erat. Entah siapa namanya. Tangisnya membuatku ikut menangis.

Setelah aku berbicara, giliran pak Presiden. Beliau naik keatan podium kecil yang dibuat oleh warga.

"Hari ini saya merasa sangatlah malu terhadap diri saya sendiri karena saya baru saja disadarkan betapa pentingnya linkungan dan isinya disekitar kita oleh anak yang hanya berusia 12 tahun, yang maju berdiri di mimbar ini tanpa selembarpun naskah untuk berpidato. Sedangkan saya maju membawa berlembar naskah yang telah dibuat oleh asisten saya kemarin. Saya ? tidak kita semua dikalahkan oleh anak yang berusia 12 tahun ?. Kita tidak pernah melakukan apa-pun sebagai bukti kalau kita benar-benar melakukanya.

Sampai selesai, seorang anak kecil dari desa memelukku juga. Dia hanya mengucapkan terima kasih. Sedangkan bu Ani mengankat jempol dari luar panggun beserta para guru yang lain.



* Untuk mereka yang masih bernafas*
* Untuk tanah yang telah rusak.. Maafkan atas perbuat kami*
* Untuk pohon-pohon yang rusak... Maafkan atas perbuatan kami*
* Untuk binatang-binatang yang mencari tempat tinggal karena ulah kami. Maafkan kami*
* Tanpa kalian kami tak akan bernafas dan tingga
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Sang Hafidz Dari Timur - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger