Cuaca tidak senormal yang dulu lagi. Beberapa tanamku mati.
Terkadang hujan, terkadang panas. Biasanya hujan itu turun sesuai
dengan musimnya. Kali benar panasnya sangat berbeda sekali. Kalau saja
terkena ditubuh, maka tubuh ini terasa sangat pedis sekali. Beberapa
berita mengatakan bahwa lapisan ozon sudah menipis. Anehnya juga ada
yang mengatakan kalau saja 2012 akan kiamat. Aku tidak percaya.
Bagaimana bisa, seharusnya soal urusan kiamat atau yang lain adalah
keputusan Allah. Manusia hanya bisa menerka saja. Kiamat..Kiamat.
Saat tiba dikelas, pelajaran biologi baru saja dimulai. Aku agak
terlambat. Cuma 15 menit. Bu guru baru saja membuat sebuat gambar dunia.
Dan dia menerangkan tentang lapisan ozon sekarang. Di sekolah semua
terkejut melihat itu. Apalagi saat ibu guru memutar sebuah film
dukementar tentang lingkungan yang mulai rusak oleh ulah manusia dan
berakibat pada manusia.
“ Inilah lapisan bumi kita sekarang.. Sudah rusak oleh ulah manusia. Manusia sudah terbiasa merusak lingkungan.. Menebang pohon, membuang sampah sembarang. Membangun pabrik-pabrik sampai asab-asabnya mulai menganggu lapisan ozon. Ibu guru tidak bisa membayangkan kalau kalian besar nanti. Mungkin saja kalian semua tidak akan bisa bernapas.”kata bu Ani guru biologi kami.
“ Jangan kalian ikut seperti manusia yang ada dalam film itu.. Kalian
seharusnya bisa mengubah sesuatu untuk masa depan kalian.” Kata bu guru
mematikan film dan penjelasan terakhir.
Kami menyimak
benar apa yang sudah terjadi saat ini. Saat duduk didalam kelas dengan
beberapa teman. Saat itu juga aku coba membayangkan suatu saat nanti.
Kalau lapisan ozon benar-benar bolong. Apa yang sudah terjadi. Pasti
sulitnya sekali bagi kami. Terus apa yang bisa kami lakukan. Kami ini
masih anak-anak kecil. Tidak ada jawaban dalam benak ini.
“Sekarang apa yang kalian lakukan untuk bumi ini”tanya bu guru.
“ Membuang sampah pada tempatnya bu?jawabku.
“ Betul.. Yang lain”
“ Menanan pohon kembali”jawab salah seorang teman dari sebelah pojok bagian belakang.
“ Bagus. Itu yang seharusnya kalian lakukan. Bukan membuang sampah sembarangan, bukan menebang pohon sembarangan.”
“Kalau memotong rumput yang berkeliaran disekolah gimana, bu?”tanya
Ationg dengan kocaknya. Aku membalik badan tertawa. Yang lain juga ikut
tertawa melihatnya. Tebak saja kalau disini bu guru menjelaskan tentang
pohon. Dia bertanya mengenai rumput-rumput yang berkeliaran. Pasti dia
baru bangun tidur.
Ibu Guru Ani hanya tertawa tipis.
Langsung menjawab pertanyaan yang diberikan kepadanya. Pendek kata dia
juga tidak mau bercerita tentang apa yang terjadi sekarang. Intinya
adalah praktek itu adalah kalimat penutup yang disampaikan sebelum bunyi
bel berbunyi.
Saat pulang sekolah. Seorang anak
kecil namanya Fatimah. Dia memanggilku. Aku membalik badan menunggunya
yang sedang berlari. Dia mengekeng tas berat, dan mengopoh sebuah buku
besar. Aku berdiri dengan salah seorang teman menunggunya. Karena aku
adalah bagian dari pengurus OSIS sekolah, selayaknya aku bersikap ramah
kepada siapa saja.
“ Ada apa Fatimah?”tanyaku.
Fatimah menarik nafas. Kami menunggu apa yang akan dia tanyakan. Fatimah
adalah pengurus OSIS. Mungkin saja dia terkesima saat aku menjelaskan
tentang lapisa ozon yang mulai menitipis. Dari penjelasanku di ruang
OSIS. Dai yang selalu aktif.
Sesama pengurus OSIS bisa beramah
tamah dengan yang lainya. Dia langsung memengang tanganku. Mengajakku
duduk dibangku depan kelas 3.
“ Boleh aku bicara
sedikit dengan kak Anis?”pinta Fatimah sambil mengeluarkan napas
pelan-pelan sambil berjalan ketempat duduk.
“Apa yang bisa dibantu, Fatimah?”
“ Begini kak.. Di desaku mulai banyak penebangan hutan kak. Kami semua
sangat takut akan terjadi sesuatu dengan desa kami. Hutan itu semakin
gundul. Tidak ada lagi pohon-pohon. Semua sudah rata dengan tanah. Semua
binatang yang biasa kami lihat juga sudah tidak ada lagi. Entah kemana
mereka. Tahun kemarin desa kami mengalami banjir. Walau tidak ada sampai
di rumahku. Kak Fatimah sangat takut kalau saja hujan deras datang.
Pastinya desa kami terkena banjir besar-besaran. Beberapa desa sudah
melaporkan kepada pihak yang berwenang. Namun hasilnya sama saja.”
“ Apa yang bisa kakak bantu buatmu?”tanyaku bingung. Kami tidak ada
wewenang sama sekali. Kami hanya anak ingusan. Hal yang paling kecil
yang biasa kami lakukan adalah. Membuang sampah pada tempatnya. Kalau
sampai pada urusan seperti ini, bukan tanggung jawab kami. Di Indonesia
ada yang lebih tinggi. Presiden, DPR, Mentri dll. Itu tugas mereka.
Sedangkan didesa ada perangkat Desa. Namun apa yang dijelaskan oleh
Fatimah sungguh mengugah hatiku. Kalau saja perangkat desa sudah
mengeluh dan mereka sudah tidak mengubrik lagi. Terus siapa lagi yang
kami keluh. Anak ini mengeluh kepada OSIS. Wewenangnya sangat kecil.
" Bisa kak bicara sama mereka?”pintanya kembali. Sepertinya dia
memahami kalau perangkat OSIS bisa bertemu dengan para pejabat. Teman
sebelahku tertawa. Dia berpikir apa yang sama sepertiku. Aku menyengir
saja.
“ Bisa..”jawabku ragu.
“ Kalau besok kakak mau bertemu dengan mereka. Nanti Fatimah yang
antarkan kakak ke perusahan itu. Perusahan itu dekat sekali dengan desa
kami.”terang anak itu dengan penuh semangat. Sedangkan Nias mencolekku.
Memang aku sendiri dengan spontan bingung menjawab kepada anak ini.
Biar nanti aku menjelaskannya kepadanya sendiri. Bagaimana fungsi OSIS
yang ada disekolah. Setahuku tugas OSIS adalah mengembangkan tugas
sekolah bukan sampai didesa, apalagi sampai berusahan dengan
orang-orang besar.
“ Kak nanti Fatimah tunggu kakak setelah pulang sekolah besok ya?”
Aku
hanya menganggukkan kepala. Nias ragu dengan apa yang sudah kulakukan.
Dia hanya bisa tertawa tanpa memberikan masukkan kepadaku.
“ Ini bukan urusanku Anis”katanya sambil tertawa.
“ Ah, bagaimana bisa!!
" Sudahlah besok sebelum pulan sekolah, kamu jelaskan saja kepadanya.
Apa sebenarnya tugas kamu. Walau kamu sebagai ketua lingkungan sekolah.
Kamu harus bisa mengatakan sebenarnya fungsi dari apa yang sudah kamu
kerjakan”
Iya” kataku sedikit ragu. Expresi
Fatimah sepertinya sangat yakin sekali. Dia sangat percaya kalau aku
akan bisa mengubah apa yang sebenarnya terjadi didesa mereka.
Anak kecil itu hanya mengucapkan terima kasih kepadaku. Dia berjalan
sambil melengak-lengok gembira. Saat sampai dipintu pagar sekolah dia
tersenyum melihatku. Aku membalas senyumnya.
****
Semalam hujan sangat besar sekali. Dan beberapa kali bunyi leputan
Guntur seperti bunyi sebuah nuklir yang dilepaskan kedasar laut. Hujan
tanpa henti-hentinya. Berulang kali aku terkejut. Aku dan bapak sedang
menonton berita. Berita kali ini adalah rutinitas kebanjiran yang
terjadi dikota Jakarta. Banjir ini seperti sarapan pagi bagi warga.
Semua warga mulai mengungsi. Sedangkan beberapa kali sungai di Jakarta
mulai meluak dengan ketinggian melebihi batas normal.
BMG memperkirakan kalau hujan tidak akan berhenti sampai beberapa lagi.
Dan cuacanya semua wilayah hampir sama. Aku dari tadi kebingungan
mencari jawaban atas pertanyaan yang diberikan oleh Fatimah. Semalam
suntuk menyusun kata dengan ditemani irama Guntur yang tidak beraturan
dan kilat yang menerawan langit hitam.
Tepat jam 11.00 keputusanku
adalah mengatakan kepada anak kecil itu kalau tugasku sebagai ketua
hanya ruang lingkup sekolah. Kalau sampai didesa bukan tugas kami. Tapi
apa mungkin dia tidak kecewa dengan apa yang kukatakan. Desa mereka
butuh bantuan kami anak-anak.
Aku menunggunya
disekolah sebelum masuk kelas. Didepan pagar Nias sudah menemaniku.
Bagaimana caranaya. Nia sudah tahu. Penjaga sekolah bertanya terus
kepadaku. Aku hanya bilang kalau sedang menunggu adik kelas. Sampai bel
berbunyi. Fatimah tidak datang kesekolah.
Saat
istirahat, tiba-tiba saja bel berbunyi. Kali ini kami disuruh apel
dilapangan. Kata bu guru ada sesuatu yang terjadi dengan siswa sekolah
kami. Semua berkumpul ramai. Bertanya-tanya siapa yang sudah meninggal.
Dan apa yang sedang terjadi. Sebuah kota amal dikeluarkan oleh teman
pengurus OSIS. Di depan sebalah kiri kami berdiri kepala sekolah.
“ Iya, hari ini kalian harus mendengar berita duka. Kalau saja beberapa
anak sekolah yang ada disini mengalami musibah. Musibah itu datang
seketika menghantang rumah mereka. Hujan deras semalam membuat tanah
longsor. Semua rumah tertanan oleh tanah. Dan beberapa siswa dinyatakan
meninggal dunia” kata kepala dengan expresi yang sangat menyedihkan.
Aku langsung terkejut mendengar kabar berita itu. Yang aku ingat adalah
Fatimah anak desa itu. Padahal aku ingin mengatakan sesuatu kepadanya.
Perjumpaanku hanya begini saja. Wajah Fatimah terbayang dibenakku.
Sedikit air mata yang keluar dari kelopak mataku. Yang lebih parah lagi
kalau keluarganya semua meninggal dunia. Dan bukan hanya itu, salah
seorang pengurus OSIS kami, yang kami dengar sangat kocak meninggal.
Ation meninggal dunia.
Semua teman-teman mengheningkan cipta sebagai rasa bela sungkawa. Dan bendera setengah tiang berkibar di sekolah kami.
***
Rapat OSIS dimulai, aku orang pertama yang berbicara mengenai
lingkungan. Seharusnya kami memiliki suara. Suara kami harus didengar
oleh pemerintah. Jangan-jangan mereka sibuk memakan uang besar, namun
nyawa kami jadi taruhan. Rapat ini sangat membludak. Dan dari semua
kesepakatan adalah DEMOSTRASI. Ide ini adalah ide ketua OSIS yang sudah
gerah dengan apa yang terjadi. Namun beberapa pengurus OSIS berusaha
menenangkannya. Saat ini nyawa kami semua terancam. Penebangan hutan.
Dan asab pabrik-pabrik.
Aku mulai mengeluarkan
sebuah ide kecil. Mengadakan kerja bakti besar-besaran dilingkungan
desa. Saat ini aku harus berperan ganda. Aku hanya membalas apa yang
diminta oleh Fatimah. Nias ikut membantu. Mengirimkan surat kepada
kepala desa. Dan tangapan kepala desa sangat bagus.
Kami semua membersihkan selokan yang ada didesa. Memasang
pajangan-panjangan tentang danpak membuang sampah seberangan. Menulis
istilah-istilah pelarangan untuk menebang hutan. Waktu itu salah seorang
pengurus OSIS menyusup keperusahan. Menempelkan sebuah pamphlet
pelarang untuk mengadakan aktivitas.
Sekolah
habis-habisan mengeluarkan uang buat kami. Walau demikian semua guru
sangat mendukung apa yang sudah kami lakukan. Mereka ikut serta
membantu. Didesa Agung semua sibuk membantu menyelamatkan warga yang
masih selamat. Alat-alat yang digunakan-pun sederhana. Pembagian tugas
ini sangat berat. Semua dilakukan sampai tengah malam.
Kali ini kami melakukan kegiatan tentang danpak dari penebangan hutan
sembarangan. Pembicara untuk kegiatan ini adalah bu Anis. Walau hanya
pengetahuan sedikit. Itu sudah cukup bagi warga. Warga sudah mulai
memahami apa yang sebenarnya terjadi. Bu guru tidak sengaja menyingung
perusahan yang didirikan beberapa tahun silam. Apa lagi ada hubungan
dengan musibah ini.
Ada yang mengusulkan untuk
perang melawan mereka. Dan ruangan semakint tidak bisa terkendalikan
lagi. Untung saja warga desa masih bisa mendengar kepala Desa.
Sekarang ini desa Agung porak-poranda. Di sini hanya menyisahkan
sejarah saja buat anak-anak. Trauma yang terjadi. Dan aka menjadi
ingatan sampai hari tua nanti.
Pak Sutarman selaku
kepala desa mengucapkan terima kasih kepada kami. Karena apa yang kami
lakukan sudah melebihi apa yang dilakukan oleh pemerintah. Dan terakhir
sebelum aku kembali kerumah. Dia berpesan agar aku bisa ikut dalam
kegiatan kunjungan pak Presiden. Aku hanya menganggukkan kepala
****
Pukul 6.00 pagi bisingan bunyi pesawat terdengar. Itu pasti rombongan
para Mentri dan Presiden. Di jalan sudah banyak sekali anak-anak
sekolah. Kami dengan lantang tidak akan ikut menyambut Presiden. Itu
keputusan rapat OSIS. Karena berulang kali dipaksakan, maka akhirnya
kami ikut menyambut. Disebelah sana beberapa teman seperti memajang Foto
korban tanah longsor. Termaksu foto teman-teman sekolah kami.
Aku duduk disebalah kepala desa. Aku juga terkejut saat namaku
dipanggil. Entah siapa yang sudah menyusun kegiatan ini. Padahal disini
hanya sebagai tamu.
“Bapak presiden, dan para
Menteri.. Saat ini kita kedatangan seorang anak yang sangat berperan
penting di desa ini…” seorang MC berkata di depan mike. Dia langsung dengan spontan
menyuruhku naik keatas. Tanpa memengang apa-apa didepan.
“Asalamualaikum wr,wb, namaku Nias Marzuki, saya berbicara mewakili
anak-anak Indonesia. Kami adalah kelompok kecil lingkungan sekolah yang
berusia 12-13. Hanya 5 orang keanggotaan. Aku ketua lingkungan sekolah
ini. Kami menggalang dana untuk membantu warga disini. Seharusnya saya
tidak bisa berbicara disini. Karena saya terlalu kecil. Namun saya ingin
memberitahukan kepada orang-orang dewasa apa yang sebenarnya terjadi.
Bapak-bapak harus mengubah cara bapak-bapak, hari ini di sini juga.
Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan
bagi diri saya saja dan sekalian anak yang ada disini. Kehilangan masa
depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam
pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yang
akan datang.
Saya berada disini
mewakili anak-anak yang kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya
tidak lagi terdengar. Saya berada disini untuk berbicara bagi
binatang-binatang yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya diseluruh
planet ini karena kehilangan habitatnya. Kami tidak boleh tidak di
dengar. Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena
berlubangnya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya
tidak tahu ada bahan kimia apa yg dibawa oleh udara. Saya sering
memancing di lautan bersama ayah saya hingga beberapa tahun yang lalu
kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker. Dan sekarang kami
mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu persatu mengalami
kepunahan tiap harinya – hilang selamanya. Dan musibah ini terjadi juga.
Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang
penuh dengan burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu
apakah hal-hal tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya
nantinya. Apakah bapak-bapak sekalian harus khawatir terhadap
masalah-masalah kecil ini ketika bapak-bapak sekalian masih berusia sama
serperti saya sekarang? Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun
begitu kita masih tetap bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak
waktu dan semua pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya
tidak memiliki semua pemecahannya. Tetapi saya ingin bapak-bapak
sekalian menyadari bahwa bapak-bapak sekalian juga sama seperti saya!
"Bapak-bapak tahu saat Fatimah datang kepadaku untuk meminta tolong
agar perusahan itu berhenti menebang hutan karena akan terjadi musibah.
Maka aku sendiri bisa mengatakan kalau aku bisa melakukan. Aku yakin
kekuatanku ada walau secuik saja. Saat terjadi seperti ini maka
kekuatan kami sangat besar. Kami hanya butuh bernapas. Itu saja. Bukan
nyawa kami yang dibayar. “
“Bapak-bapak
tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita.
Bapak-bapak tidak tahu bagaimana cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke
sungai asalnya. Bapak-bapak tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan
binatang-binatang yang telah punah. Dan bapak-bapak tidak dapat
mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di tempatnya, yang sekarang
hanya berupa padang pasir. Jika bapak-bapak tidak tahu bagaima cara
memperbaikinya.
TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!”
"Dan saat ini kami bisa berbagi dengan mereka, kenapa bapak-bapak
tidak bisa melakukannya. Sekarang saat aku berdiri disini.. Aku hanya
menyampaikan amanah dari adik tingkat kami Fatimah. Dia pasti menunggu
apa yang ingin aku lakukan. Namun hari ini aku melakukannya untuknya.
Untuk anak-anak di Indonesia. Dari sekolah kami baru saja menanan
beberapa ratus tanan dihutan. Walau sekolah kami seperti ini. Tapi kami
peduli dengan mereka. Bintang-bintang adalah teman kami.
"Saya tidak mau mengatakan kalau kami sekarang dalam keadaan aman
lingkungan. Kalau masih banyak yang sibuk memberikan wewenang kepada
orang-orang yang berduit untuk membangun perusahan. Menebang pohon
sembarangan."
“SEKIAN TERIMA KASIH"
Semuanya berdiri dari tempat duduk. Memberikan tepuk tangan meriah
kepadaku. Mereka sangat terharu dengan pidatoku. Beberapa warga yang
mengalami musibah menangis saat mendengarnya. Saat aku turun, seorang
lelaki tua memelukku erat. Entah siapa namanya. Tangisnya membuatku ikut
menangis.
Setelah aku berbicara, giliran pak Presiden. Beliau naik keatan podium kecil yang dibuat oleh warga.
"Hari ini saya merasa sangatlah malu terhadap diri saya sendiri karena
saya baru saja disadarkan betapa pentingnya linkungan dan isinya
disekitar kita oleh anak yang hanya berusia 12 tahun, yang maju berdiri
di mimbar ini tanpa selembarpun naskah untuk berpidato. Sedangkan saya
maju membawa berlembar naskah yang telah dibuat oleh asisten saya
kemarin. Saya ? tidak kita semua dikalahkan oleh anak yang berusia 12
tahun ?. Kita tidak pernah melakukan apa-pun sebagai bukti kalau kita
benar-benar melakukanya.
Sampai selesai, seorang
anak kecil dari desa memelukku juga. Dia hanya mengucapkan terima kasih.
Sedangkan bu Ani mengankat jempol dari luar panggun beserta para guru
yang lain.
* Untuk mereka yang masih bernafas*
* Untuk tanah yang telah rusak.. Maafkan atas perbuat kami*
* Untuk pohon-pohon yang rusak... Maafkan atas perbuatan kami*
* Untuk binatang-binatang yang mencari tempat tinggal karena ulah kami. Maafkan kami*
* Tanpa kalian kami tak akan bernafas dan tingga

Posting Komentar