Barusan
saya di datangi oleh seorang lelaki, dengan tinggi badan melebihi diriku. Saya
sedang sibuk mengetik surat rekomendasi yang rencananya saya akan memasukkan
aplikasi formnya besok. Sambil berpikir lelaki itu melihat tanganku begitu
cepat mengetik setiap kalimat. Di tambah lagi kalau dia tahu bahwa aku adalah
seorang penulis Novel yang bukunya belum jadi Bestseller sampai sekarang.
Mungkin saja karena tulisan novel yang saya buat tidak sebagus para
penulis-penulis hebat yang ada sekarang. Kalau saya mau katakan itu hanya
kebetulan saja novel saya diterbitkan.
Lelaki
itu pernah bertemu dengan saya sebelumnya. Dia pernah bertanya banyak hal
ketiak saya memberikan materi tentang kepenulisan dalam kegiatannya. Lalu dia
bertanya bagaimana buku itu bisa terjadi. Kemudian dia juga bertanya berapa
uang yang saya dapatkan dan pertanyaan yang sangat menyebalkan adalah apakah
menjadi penulis bisa membuat kita jadi orang kaya. Tapi saya selalu memberikan
gambaran tentang mereka-mereka yang pernah menulis yang menjadi orang kaya
contoh JK. Rowling, Paulo Coelho, Dan Brown, Andrea Hirata, Habiburahman, Asman
Nadia. Mereka adalah penulis yang saya rasa sudah bisa merasakan dari apa yang
mereka kerjakan dalam menulis.
Saat
saya ingin menulis nama orang yang akan merekomendasikan saya, dia bertanya
kepada saya,“bagaiama memulai dalam menulis?”. Saya menatapnya dan mengangkat
kening. Tersenyum.
“Memulainya
dengan membaca?”jawab saya sambil menghentikan ketikan saya.
“Tapi
saya sudah membaca”
“Membaca
satu buku tentang Prulalisme, dan hubungannya dengan konflik”
“Hanya
satu tidak bisa menjamin untuk bisa menyelesaikan tulisannya. Terkecuali harus
beberapa buku lagi dalam menulis”
“Maksudnya
apa?”
‘Membaca
lagi lebih banyak. Berbeda antara menulis Fiksi dan NonFiksi. Fiksi membaca dan
berimajenasi, sedangkan nonfiksi membaca dan menganalisa lalu mengamati aspek
apa yang mau dituliskan”jelasku agar dia bisa memahami. Tapi wajahnya tetap
mengkerut masih tidak paham apa yang saya jelaskan. Dia menganggukan kepala,
berpura-pura mengerti.
Dari
tampang saya tahu bahwa dia adalah orang yang tidak pernah membaca. Saya
sendiri sampai sekarang masih membaca, bahkan buralang kali saya harus membaca
beberapa buku untuk memahami. Membaca sekali tidak cukup untuk bisa menulis.
Membaca berulang kali. Lalu menulis berulang kali biar kita bisa memahami apa
yang kita tulis.
Biasanya
kalau ada yang bertanya, “bagaimana menulis?”.Saya selalu menjawab bagaiamana
anda membaca. Itu jawaban yang paling tepat untuk seseorang yang berkeinginan
untuk menulis sebuah cerita atau sebuah buku ilmia.
Perlahan-lahan
barula dia mengerti apa yang kujelaskan. Dia mengatakan kepada saya, “berarti
saya harus banyak membaca lagi”. Saya menganggukan kepala. Dia pun berdiri
masuk ke dalam kelas.


Posting Komentar