Headlines News :
Home » » Bagaimana bisa Menulis?

Bagaimana bisa Menulis?

Written By Munawir Borut on Sabtu, 18 Januari 2014 | 04.08



Barusan saya di datangi oleh seorang lelaki, dengan tinggi badan melebihi diriku. Saya sedang sibuk mengetik surat rekomendasi yang rencananya saya akan memasukkan aplikasi formnya besok. Sambil berpikir lelaki itu melihat tanganku begitu cepat mengetik setiap kalimat. Di tambah lagi kalau dia tahu bahwa aku adalah seorang penulis Novel yang bukunya belum jadi Bestseller sampai sekarang. Mungkin saja karena tulisan novel yang saya buat tidak sebagus para penulis-penulis hebat yang ada sekarang. Kalau saya mau katakan itu hanya kebetulan saja novel saya diterbitkan.
Lelaki itu pernah bertemu dengan saya sebelumnya. Dia pernah bertanya banyak hal ketiak saya memberikan materi tentang kepenulisan dalam kegiatannya. Lalu dia bertanya bagaimana buku itu bisa terjadi. Kemudian dia juga bertanya berapa uang yang saya dapatkan dan pertanyaan yang sangat menyebalkan adalah apakah menjadi penulis bisa membuat kita jadi orang kaya. Tapi saya selalu memberikan gambaran tentang mereka-mereka yang pernah menulis yang menjadi orang kaya contoh JK. Rowling, Paulo Coelho, Dan Brown, Andrea Hirata, Habiburahman, Asman Nadia. Mereka adalah penulis yang saya rasa sudah bisa merasakan dari apa yang mereka kerjakan dalam menulis.
Saat saya ingin menulis nama orang yang akan merekomendasikan saya, dia bertanya kepada saya,“bagaiama memulai dalam menulis?”. Saya menatapnya dan mengangkat kening. Tersenyum.
“Memulainya dengan membaca?”jawab saya sambil menghentikan ketikan saya.
“Tapi saya sudah membaca”
“Membaca satu buku tentang Prulalisme, dan hubungannya dengan konflik”
“Hanya satu tidak bisa menjamin untuk bisa menyelesaikan tulisannya. Terkecuali harus beberapa buku lagi dalam menulis”
“Maksudnya apa?”
‘Membaca lagi lebih banyak. Berbeda antara menulis Fiksi dan NonFiksi. Fiksi membaca dan berimajenasi, sedangkan nonfiksi membaca dan menganalisa lalu mengamati aspek apa yang mau dituliskan”jelasku agar dia bisa memahami. Tapi wajahnya tetap mengkerut masih tidak paham apa yang saya jelaskan. Dia menganggukan kepala, berpura-pura mengerti.
Dari tampang saya tahu bahwa dia adalah orang yang tidak pernah membaca. Saya sendiri sampai sekarang masih membaca, bahkan buralang kali saya harus membaca beberapa buku untuk memahami. Membaca sekali tidak cukup untuk bisa menulis. Membaca berulang kali. Lalu menulis berulang kali biar kita bisa memahami apa yang kita tulis.
Biasanya kalau ada yang bertanya, “bagaimana menulis?”.Saya selalu menjawab bagaiamana anda membaca. Itu jawaban yang paling tepat untuk seseorang yang berkeinginan untuk menulis sebuah cerita atau sebuah buku ilmia.
Perlahan-lahan barula dia mengerti apa yang kujelaskan. Dia mengatakan kepada saya, “berarti saya harus banyak membaca lagi”. Saya menganggukan kepala. Dia pun berdiri masuk ke dalam kelas.
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Sang Hafidz Dari Timur - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger