Hari
ini saya di suruh untuk berziarah di makam ibu saya yang sudah lama meninggal.
Ibu saya meninggal tanggal 2 Agustus 2007 Di waktu saya masih masuk kuliah
semester awal. Tapi sampai sekarang ibu sudah nga tahu lagi apa saya sudah
selesai kuliah atau belum. Seandainya Allah mengizinkan ibuku untuk turun
sebentar ke bumi. Mungkin saja saya bisa menceritakan banyak hal mengenai
kuliahku. Masa-masa sulit dan bagaimana bertarung sampai bisa selesai dari
bangku kuliah. Tapi itu imposible diizinkan.
Ya, saya hanya bisa mengobrol dengannya di waktu mimpi dia atas kasur. Pernah
terjadi saya bermimpi bertemu denganya. Dan saya lupa apa yang dia katakan
waktu itu. Namun sangat menyesal saya nga sempat ingat lagi apa pesan ibu
.
.
Panasnya
sangat menyengat sehingga membuat tubuhku terasa seperti terbakar. Bahkan
keringat itu bercucuran seperti darah mengalir di tangan. Ampun bukan main
sampai saya yang mau ke makam harus banyak istrahat. Karena perjalanan ke makan begitu menanjak.
Nga ada satu pohon pun yang bisa berteduh, karena semua tanah sudah ditumbuhi
oleh batu-batu yang tersusun rapi, menutupi mereka yang sedang santai untuk
tidur.
Sampai
di makam, saya duduk dan menyentuh nisan. Semua orang akan kembali di tempat
peristirahatan yang sangat lama. Menunggu kapan kiamat akan datang. Kemudian
saya melihat dua kuburan yang bukan lain adalah kedua saudaraku. Tapi sampai
sekarang saya nga pernah melihat foto mereka. Bapak hanya mengatakan bahwa
mereka adalah saudara-saudaramu. Sebelum kamu lahir dia masih ada. Tapi dia
meninggal di waktu kamu masih kecil. Sedangkan yang satunya adalah adikmu. Lalu
dia meninggal setelah kamu masih berumur 5 tahun. Sampai sekarang saya lupa
wajah mereka. Mungkin dulu bapak nga sempat memotret kami. Jadi nga ada
kenangan sama sekali.
Anginnya
bertiup. Saya menyekat keringat saya. Menceritakan tentang semua yang sudah
terjadi setelah ibu meninggal dunia. Mengenai istri dan cucunya yang imut
sekali. Kemudian mengenai kuliahku yang sudah selesai, sambil menunggu wisudah
yang hanya tinggal beberapa bulan lagi. Saya juga menceritakan semua mimpiku
selama ini. Mimpi menjadi seorang penulis terkenal. Menunggu impian itu
terjawab oleh Allah. Meski sudah hampir 2
tahun impian doa itu belum terjawab. Tapi sampai sekarang saya selalu
bahwa ada sesuatu yang Allah berikan setelah itu.
“
Ibu.. Hari ini saya datang untuk memberi tahukan bahwa sekarang ibu sudah
memiliki cucu yang gemas sekali. Seandainya engkau masih hidup. Pastinya kau
gendong dia. Iya, namanya Zahir. Nama yang ada dalam novel pertama saya buat.
Novel tentang dua anak penghafal al’quran. Nama Zahir artinya yang menerangi.
Seperti namaku Munawir yang artinya yang penerang. Hampir percis. Sengaja aku
beri nama itu agar dia bisa mewakili mimpiku menjadi penghafal Al’quran kelak.”
“
Sekarang Zahir dan mamanya belum bisa datang ke Ambon, karena mamanya harus
pemulihan dari sakitnya. Sedangkan Zahir sangat sibuk dengan susunya dan
neneknya yang sangat menyanginya. Hanya 2 bulan aku mengendongnya. Setelah itu
saya tidak lagi mengendong sampai sekarang karena saya masih ada di Ambon.”
“
Kalau boleh ingin kujemput mereka di bulan Februari tahun depan. Saya selalu
berdoa agar ada sesuatu keajaiban. Lalu mimpiku menjadi seorang penulis sampai
sekarang belum terjadi. Semoga saja tahun depan terwujudkan. Dan maaf baru
sekarang aku bisa datang ke sini. Setelah ujian yang lalu saya ingin datang.
Tapi ada alasan tersendiri. Mungkin saja engkau sudah tahu”
Angin
menghilangkan keringat. Saya berhenti bercerita banyak di atas kuburan ibuku.
Sampai sekarang saya nga pernah bercerita di sini. Hanya datang membersihkan
rerumputan.
Waktunya
sangat tepat. Dan hati mulai lega ketika cerita itu sudah tercurahkan sampai
selesai.


Posting Komentar