Hidup itu bagai setiap Edisi. Ada waktu dan cerita tersendiri. Ada yang harus ditertawakan, ada juga harus menahan sedih. Setiap orang pasti akan merasakan hal yang sama. Bahkan pada Edisi koran harian punya cerita tersendiri. Meski ada kesamaan proses.
Hari ini saya sedang duduk sendiri di dalam mesjid. Meski ada beberapa orang yang sedang tertidur lelap, ada yang sibuk menambah pahala dengan membaca Al'quran. Ada yang mengintip dari pagar seorang perempuan berkerudung biru yang sedang mengenakan meqenah. Wajah cantik nan elok rupawan. Aku sedang menunggu sms dari istri, menunggu waktu solat selanjutnya. Ya, karena edisiku adalah Edisi pengangguran yang selalu berada di dalam mesjid. Tapi tak mengapa, ketimbang diriku harus berada di luar sana dengan sikap yang menjengkelkan.
Semua orang harus bekerja setelah mereka berteriak selesai solat jumat. Berkata keras dan tidak sopan. Pribahasa mengatakan bahwa Tong Kosong Nyaring Bunyinya. Dari dulu setiap Edisi tetap sama yang saya saksikan. Meski semua orang tahu bahwa mesjid bukan hanya tempat ibadah, melainkan tempat musyawarah, tempat ilmu, tapi bukan berarti di dalam mesjid harus berteriak-teriak keras, tertawa terbahak-bahak.
Saya membenci orang seperti ini. Tak ada Edisi hidup mereka. Edisi hidup yang dimaksud adalah bahwa sebuah perubahan. Ada masalah dengan diriku sendiri tentang mereka. Tidak.. Tapi mereka yang selalu salah menempatkan diri mereka berada di tempat yang suci menjadi tempat yang kotor
Kini aku menikmati suasana begitu tenang, menunggu apa yang terjadi besok. Edisi besok adalah edisi perubahan, mendapatkan banyak cerita, Apa saja. Mengenai petualangan, keluh kesah setiap orang, tentang mimpi membangun kota kecil menjadi kota indah, yang hanya konsep otak, tapi pada realitas yang terjadi adalah tidak sama sekali.
Jalan hidup ini seperti tanjakan, seperti tangga..Semua akan tetap terjadi. Mimpi besar tetap ada. Menjadi seorang penulis. Bahkan Istiri saya selalu mengatakan sampai kapan harus berusahan menjadi seorang penulis. Dan harus menerima banyak penolakan setiap bulan. Lalu menunggu keajaiban Allah semata. Dan dia harus tertawa mendengar kataku bahwa " Ada Edisi Baru dalam Hidup.. Setiap hari passti akan terjadi sesuatu yang direncanakan Allah. Kalau hari belum menjadi seorang penulis terkenal. Mungkin besok, mungkin besok lagi..Edisi kita tetap berbeda setiap saat"
" Terserah apa kata kamu?"ucap istri saya yang sudah malas mendengar mimpi saya sampai seka

Posting Komentar