Selesai
solat Assar di mesjid, saya keasikan duduk di mesjid dengan salah satu teman.
Di sebelah kami ada beberapa orang yang duduk. Tapi mereka nga ngobrol dengan
kami. Mereka sibuk dengan internet gratisan. Sedangkan disebelah samping saya
adalah teman saya yang awalnya dia udah pulang. Tiba-tiba muncul lagi.
Saat
saya ngomongin tentang teman saya yang saya anggap bahwa dia lebih tua dari
kami berdua tentang hidupnya menjadi MLM( Multi level Marketing). Dari awal dia
ngobrol tentang hidupnya di waktu muda dulu kepada kami. Lumayan lucu. Ini
mungkin karena pertanyaan saya “ Mas kenapa nga jadi PNS saja?”
“
Nga bisa jadi PNS. Persoalannya saya bukan lulusan sarjana”
“
Kenapa tertarik dengan bisnis seperti ini.. maksud saya, mas menjadi MLM gitu?”
Dia
tertawa mendengar pertanyaan saya. Dari dulu saya nga tahu sebenarnya apa yang
hebat menjadi MLM. Tapi saya biasa ditunjukkan hal menarik menjadi MLM. Dulu
bahkan saya pernah mengikut seminar salah satu produk. Nga sempat gabung
menjadi anggota tapi suka dengan seminar yang memotivasi. Istilahnya membakar
jiwa.
“
Hidup itu pilihan. Dulu saya nga pernah berpikir untuk menjadi MLM. Dulu saya
pernah kerja di bengkel. Tapi gaji pokok dan harian sama. Sama-sama nga ada
tabungan. Lalu saya pindah lagi di Makasar. Di sana lebih parah lagi. Hampir
nga makan sekali. Saya mulai mengambil keputusan untuk pindah ke Sorong. Bukan
dapat kerja. Malah di sana saya belajar ngaji selama sebulan.”
Saya
dan teman tertawa.
“
Dulu ada dua pilhan bagi saya ketika masih berada di sorong. Dua tawaran. Yang
satu menjadi PNS, yang satu bekerja di salah satu perusahan Gas di Sorong. Dan
dua-duanya sudah memberikan signal bahwa saya sudah siap menjadi PNS. Dan satu
pilihan yang membuat saya untuk menolak pekerjaan itu ketika orang tua saya sakit. Nah, pilihan MLM
adalah pilihan yang bukan karena terdesak. Tapi karena memang saya lebih senang
dengan pekerjaan seperti ini. Intinya adalah bagaimana pekerjaan ini dikerjakan
dengan perasaan nikmat meski kecil gajinya. Dari pada gaji besar tapi tidak
sama sekali menyukai pekerjaannya”
Kami
berdua hanya diam. Kalau benar-benar hidup itu pilihan mungkin cerita ini
benar. “ Dulu saya selalu ditanya mau jadi apa besar. Jawaban saya adalah PNS.
Teman saya tertawa. Maka teman saya mengatakan bahwa. Temukan satu orang PNS
yang sudah bekerja selama 10 tahun. Lalu lihat kehidupan mereka. Mungkin saja
nasib kamu 10 tahun akan seperti dia”
Dan saat dia berkata seperti itu, maka saya harus benar-benar menentukan untuk diri saya sendiri. Pilihan atau memilih akan berisiko. Tapi kalau saya memilih yang benar, dengan alasan -alasan yang masuk akal. Nga akan menjadi masalah. Besok saya akan memilih untuk masa depan. Keluar dari kota yang berpenduduk 2 juta lebih. Yang ngobrolnya lebih nyentrik soal politk ketimbang yang lain.
Sebelum kami berdua pulang, saya ingat satu pesan yang paling menyentuh adalah " Allah hanya melarang cara yang kita dapatkan dari pekerjaan yang tidak halal."

Posting Komentar