Headlines News :
Home » » ROMANTISAN MEMBANGUN MALUKU

ROMANTISAN MEMBANGUN MALUKU

Written By Munawir Borut on Rabu, 25 Desember 2013 | 00.43



Monumen Martha Christina Tiahahu Karang Panjang Ambon
Patung Cristina Martatiahau

Karena semalam hujan begitu deras. Saya dan dua teman  duduk di pelataran mesjid Alfatah. Sambil menunggu hujan berhenti. Kami bertiga berdiskusi mengenai Maluku. Apa yang terjadi mengenai diskusi dengan kedua teman adalah sebuah kata Romantisme Membangun Maluku. Iya, Romantis seperti bahasa alay bahasa jablay, bahasa rayuan. Ingin mengubah kota kecil dengan kebiasaan yang berbeda dengan keinginan kita sendiri. Sama halnya dulu ketika saya duduk bersama seorang teman yang sangat pandai sekali dengan sejarah.  Saya bertemu dengannya di perpustakaan di tahun 2011. Di sana dia bertanya mengenai diriku.
 “ Setelah kak Ewir lulus dari sarjana mau kemana?”
“ Pasti keluar”dia yang menjawab karena dia sudah tahu apa yang akan kujawab. Dan aku juga tidak sempat menjawab karena sedang membaca buku novel.  
“Kenapa?”tanya dia ingin tahu kenapa aku harus keluar dari kota yang berpenduduk 2juta lebih ini.
“Ya, ingin keluar saja.. Mau belajar di
luar”jawabku. Jawabanku yang mungkin bisa membuatnya memahami apa keinginan saya dari dulu.
“ Setelah itu pasti tidak kembali lagi”katanya menebak-nebak keinginanku setelah belajar di sana.
Aku mengangkat kepala. Menganggukkan kepala dua kali. Dia tertawa melihat sikapku.
“ Di Ambon saja bang. Kita bangun Maluku”katanya begitu yakin ingin membangun Maluku setelah dia selesai dari kuliah nanti. Lalu merasa bahwa dirinya bisa membangun Maluku dengan emosi begitu besar. Kemudian membutuhkan kekuatan beberapa orang lagi untuk menjawab impiannya itu. Benar-benar gila dia.. “ Apa juga yang mau dibangun di sini. Sudah ada Mall, sudah ada Jembatan merah putih.?”kata saya dari dalam hati menatapnya begitu lama. Tapi sebenarnya ucapannya sangat mengeletik diriku. Ingin sekali tertawa. Tapi saya tidak mau melakukannya karena takut dia tersinggung.
Sebenarnya kalau saya pikir bahwa orang-orang dengan karakter seperti ini, harus banyak. Punya keinginan yang sangat besar. Apa lagi memiliki mimpi yang  ingin mengubah apa yang ingin mengubah kebiasaan, menjadi yang baik. Tapi kenyataannya apa yang dia pikirkan adalah semangat sementara saja. Terlalu cepat untuk memutuskan dirinya untuk bertahan di sini tanpa melihat kondisi yang sebenarnya. Dia harus tahu bahwa apa yang sebenarnya terjadi di sini. Bukan persoalan perang. Melainkan ada hal-hal yang tidak bisa diceritakan bagi saya. Dia juga pasti akan merasakan diri sendiri.
Dan semalam saya bertemu denganya kembali. Lalu dia mulai menceritakan apa yang dia rasakan sekarang. Ternyata dia mulai merasa resah dengan dirinya sendiri. Entah iblis siapa yang sudah mempengaruhi dirinya. Tiba-tiba saja dia berkata.
“ Sepertinya aku juga harus keluar dari Ambon, kak Ewir?”katanya kepada kami berdua.
“Kenapa?”
“Ya, aku ingat apa yang kakak katakan bahwa di sini bukan tempat kita mengexpresikan kehebatan kita. Ada tempat lain yang bisa mengexpresikan diri kita.”
“ Jangan keluar dari sini.. Kau harus membangun Maluku. Anak muda dengan jiwa semangat. Itu sebenarnya yang ditunggu-tunggu oleh orang Maluku. Kau belajar saja di sana. Ambil ilmu yang sangat banyak. Lalu datang dengan keinginan seperti dulu. Membangun Maluku, meski romantis bahasannya”kataku mengulang pembicaraan 3 tahun yang lalu sambil tertawa. Dia berpikir bahwa saya sudah lupa ucapannya. Ternyata saya masih ingat. Dia ikut tertawa juga mengingat betapa emosinya saat dia masih muda dulu. Mengebu-gebuh tetap bertahan karena ingin bermimpi membangun kota kecil yang sibuk dengan politik ketimbang hal-hal yang lain.
“ Mau kamana?”tanya ku dimana tempat yang akan dia berlabu.
“ Ke Jogja..”
“ Berarti nga kembali lagi?”
“ Mungkin tua baru kembali. Itu pun kalau sudah mau mati”katanya sambil tertawa. Ucapannya hampir sama dengan beberapa orang yang saya temui sebelumnya. Meski saya tahu bahwa mereka itu punya potensi yang sangat hebat. Tapi di daerah sendiri terasa seperti biasa. Seperti pendatang. Entah kenapa?. Ya, mungkin dari awal tujuannya berbeda.  
“ Di sini yang pandai adalah orang yang bisa mengenalisa politik. Bisa mebak siapa yang akan menjadi gubernur. Kalau dalam dunia akademik. Nga ada yang peduli. Meski lulusannya universitas tertanama di negeri sendiri atau di luar negeri. Yang paling penting adalah Politik Praktis untuk bisa bertahan hidup. Lihat saja korannya. ”begitulah kata saya kepada beberapa teman yang datang di kampung sendiri entah itu liburan atau sedang melakukan penelitian.
Beberapa orang dulu juga pernah berkata kepada saya  bahwa besar di Negeri orang. Lalu terkenal. Kemudian membawah nama asal negeri sendiri itu lebih baik, ketimbang besar di negeri sendiri, tapi di luar tak satu pun orang yang mengenal siapa kita.
Salah satu teman saya juga akhirnya berpikir terbalik. Lalu dia berkata “ Sepertinya saya juga harus keluar juga?”
“ Ingat.. Kalau benar-benar ingin keluar dan berkembang. Lakukan  sesuatu yang tidak pernah orang lakukan di sana. Bukan berarti harus menjadi teroris, karena semua orang takut melakukan kecuali orang-orang yang ideologinya sangat kuat. Jangan juga jadi patung melihat apa yang sebenarnya bisa kita lakukan melebihi mereka.”kata saya kepada mereka.


   

Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Sang Hafidz Dari Timur - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger