| Patung Cristina Martatiahau |
Karena
semalam hujan begitu deras. Saya dan dua teman
duduk di pelataran mesjid Alfatah. Sambil menunggu hujan berhenti. Kami
bertiga berdiskusi mengenai Maluku. Apa yang terjadi mengenai diskusi dengan
kedua teman adalah sebuah kata Romantisme Membangun Maluku. Iya, Romantis
seperti bahasa alay bahasa jablay, bahasa rayuan. Ingin mengubah kota kecil
dengan kebiasaan yang berbeda dengan keinginan kita sendiri. Sama halnya dulu
ketika saya duduk bersama seorang teman yang sangat pandai sekali dengan
sejarah. Saya bertemu dengannya di
perpustakaan di tahun 2011. Di sana dia bertanya mengenai diriku.
“ Setelah kak Ewir lulus dari sarjana mau
kemana?”
“
Pasti keluar”dia yang menjawab karena dia sudah tahu apa yang akan kujawab. Dan
aku juga tidak sempat menjawab karena sedang membaca buku novel.
“Kenapa?”tanya
dia ingin tahu kenapa aku harus keluar dari kota yang berpenduduk 2juta lebih
ini.
“Ya,
ingin keluar saja.. Mau belajar di
luar”jawabku. Jawabanku yang mungkin bisa membuatnya memahami apa keinginan saya dari dulu.
luar”jawabku. Jawabanku yang mungkin bisa membuatnya memahami apa keinginan saya dari dulu.
“
Setelah itu pasti tidak kembali lagi”katanya menebak-nebak keinginanku setelah
belajar di sana.
Aku
mengangkat kepala. Menganggukkan kepala dua kali. Dia tertawa melihat sikapku.
“
Di Ambon saja bang. Kita bangun Maluku”katanya begitu yakin ingin membangun
Maluku setelah dia selesai dari kuliah nanti. Lalu merasa bahwa dirinya bisa
membangun Maluku dengan emosi begitu besar. Kemudian membutuhkan kekuatan
beberapa orang lagi untuk menjawab impiannya itu. Benar-benar gila dia.. “ Apa
juga yang mau dibangun di sini. Sudah ada Mall, sudah ada Jembatan merah putih.?”kata
saya dari dalam hati menatapnya begitu lama. Tapi sebenarnya ucapannya sangat
mengeletik diriku. Ingin sekali tertawa. Tapi saya tidak mau melakukannya
karena takut dia tersinggung.
Sebenarnya
kalau saya pikir bahwa orang-orang dengan karakter seperti ini, harus banyak.
Punya keinginan yang sangat besar. Apa lagi memiliki mimpi yang ingin mengubah apa yang ingin mengubah
kebiasaan, menjadi yang baik. Tapi kenyataannya apa yang dia pikirkan adalah
semangat sementara saja. Terlalu cepat untuk memutuskan dirinya untuk bertahan
di sini tanpa melihat kondisi yang sebenarnya. Dia harus tahu bahwa apa yang
sebenarnya terjadi di sini. Bukan persoalan perang. Melainkan ada hal-hal yang
tidak bisa diceritakan bagi saya. Dia juga pasti akan merasakan diri sendiri.
Dan
semalam saya bertemu denganya kembali. Lalu dia mulai menceritakan apa yang dia
rasakan sekarang. Ternyata dia mulai merasa resah dengan dirinya sendiri. Entah
iblis siapa yang sudah mempengaruhi dirinya. Tiba-tiba saja dia berkata.
“
Sepertinya aku juga harus keluar dari Ambon, kak Ewir?”katanya kepada kami
berdua.
“Kenapa?”
“Ya,
aku ingat apa yang kakak katakan bahwa di sini bukan tempat kita mengexpresikan
kehebatan kita. Ada tempat lain yang bisa mengexpresikan diri kita.”
“
Jangan keluar dari sini.. Kau harus membangun Maluku. Anak muda dengan jiwa
semangat. Itu sebenarnya yang ditunggu-tunggu oleh orang Maluku. Kau belajar
saja di sana. Ambil ilmu yang sangat banyak. Lalu datang dengan keinginan
seperti dulu. Membangun Maluku, meski romantis bahasannya”kataku mengulang
pembicaraan 3 tahun yang lalu sambil tertawa. Dia berpikir bahwa saya sudah
lupa ucapannya. Ternyata saya masih ingat. Dia ikut tertawa juga mengingat
betapa emosinya saat dia masih muda dulu. Mengebu-gebuh tetap bertahan karena
ingin bermimpi membangun kota kecil yang sibuk dengan politik ketimbang hal-hal
yang lain.
“
Mau kamana?”tanya ku dimana tempat yang akan dia berlabu.
“
Ke Jogja..”
“
Berarti nga kembali lagi?”
“
Mungkin tua baru kembali. Itu pun kalau sudah mau mati”katanya sambil tertawa.
Ucapannya hampir sama dengan beberapa orang yang saya temui sebelumnya. Meski saya
tahu bahwa mereka itu punya potensi yang sangat hebat. Tapi di daerah sendiri
terasa seperti biasa. Seperti pendatang. Entah kenapa?. Ya, mungkin dari awal
tujuannya berbeda.
“
Di sini yang pandai adalah orang yang bisa mengenalisa politik. Bisa mebak
siapa yang akan menjadi gubernur. Kalau dalam dunia akademik. Nga ada yang
peduli. Meski lulusannya universitas tertanama di negeri sendiri atau di luar
negeri. Yang paling penting adalah Politik Praktis untuk bisa bertahan hidup.
Lihat saja korannya. ”begitulah kata saya kepada beberapa teman yang datang di
kampung sendiri entah itu liburan atau sedang melakukan penelitian.
Beberapa
orang dulu juga pernah berkata kepada saya bahwa besar di Negeri orang. Lalu terkenal.
Kemudian membawah nama asal negeri sendiri itu lebih baik, ketimbang besar di
negeri sendiri, tapi di luar tak satu pun orang yang mengenal siapa kita.
Salah
satu teman saya juga akhirnya berpikir terbalik. Lalu dia berkata “ Sepertinya
saya juga harus keluar juga?”
“
Ingat.. Kalau benar-benar ingin keluar dan berkembang. Lakukan sesuatu yang tidak pernah orang lakukan di
sana. Bukan berarti harus menjadi teroris, karena semua orang takut melakukan
kecuali orang-orang yang ideologinya sangat kuat. Jangan juga jadi patung
melihat apa yang sebenarnya bisa kita lakukan melebihi mereka.”kata saya kepada
mereka.

Posting Komentar